Pekerjaan tersebut menggunakan pola perawatan P12, P24, dan P48 beserta variasi tahapannya. P12 merupakan perawatan dengan siklus 12 bulan, P24 dilakukan setiap dua tahun, sedangkan P48 dilaksanakan setiap empat tahun dengan lingkup pemeriksaan yang lebih luas.
Proses perawatan mencakup pemeriksaan sistem mekanis, hidraulis, kelistrikan, pengereman, penggerak, dan perangkat kerja mesin. Lingkup pekerjaan ditentukan berdasarkan tipe, usia, jam kerja, kondisi komponen, serta riwayat gangguan masing-masing mesin.
Mesin yang dirawat memiliki rentang tahun produksi dari 1984 hingga 2024. Sebanyak 23 unit berasal dari periode 1984–1994, delapan unit dari periode 2013–2015, dan 20 unit dari periode 2020–2024.
Keberagaman usia dan teknologi tersebut membutuhkan pekerja yang memahami sistem mekanis dari berbagai generasi. Mesin yang lebih lama memerlukan ketelitian dalam pemeriksaan komponen dan penyesuaian suku cadang, sedangkan mesin generasi baru dilengkapi sistem kontrol dan perangkat elektronik yang lebih kompleks.
“Keandalan mesin sangat bergantung pada ketelitian dan kompetensi pekerja. Setiap tahapan harus dilakukan sesuai prosedur, mulai dari pemeriksaan awal, perbaikan komponen, pemasangan, hingga pengujian sebelum mesin dinyatakan siap digunakan,” kata Muhib.
Untuk mendukung pekerjaan tersebut, Balai Yasa Mekanik Cirebon Prujakan dilengkapi overhead crane, mesin bubut, mesin milling, forklift, mesin potong, hydraulic press, lifting jack, hand lift, genset, mesin pengisian nitrogen accumulator, scissor lift, serta high-pressure washer.
Balai Yasa Mekanik Cirebon Prujakan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 dan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001:2015. Pengelolaan lingkungan dilakukan melalui instalasi pengolahan air limbah, pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun, penanaman pohon, revitalisasi taman, serta hidroponik.
Data norma kendali hingga April 2026 mencatat nol kecelakaan kerja, nol pencemaran lingkungan, dan nol keterlambatan proses perawatan.
“Keselamatan perjalanan dibangun dari banyak pekerjaan yang berlangsung di belakang layar. Kesiapan rel di lapangan, keandalan mesin perawatan, kompetensi pekerja, serta disiplin dalam setiap proses menjadi bagian yang saling terhubung untuk menjaga perjalanan kereta api di seluruh Jawa,” tutup Muhib.

