Musim kemarau juga memberikan tekanan terhadap sektor pertanian. Berkurangnya ketersediaan air membuat petani harus menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan lahan.
Tanaman yang membutuhkan pasokan air cukup menghadapi risiko kekurangan air apabila kemarau berlangsung lebih panjang.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian sekaligus pendapatan masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor agraris.
Di sisi lain, lahan dan kawasan hutan yang mengering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karhutla Ikut Meningkat di Tengah Kemarau
BPBD Trenggalek mencatat hingga akhir Agustus 2026 terdapat 21 kejadian karhutla. Kebakaran tersebut terjadi di 28 titik yang tersebar pada 16 desa/kelurahan di tujuh kecamatan.
Kondisi vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar ketika muncul sumber api.
Stefanus Triadi Admono, Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran secara sembarangan selama musim kemarau.
“Kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Jangan melakukan pembakaran hutan, lahan, semak, rumput maupun sampah secara sembarangan karena kondisi saat ini sangat kering,” tegas Triadi.
BPBD bersama unsur terkait juga melakukan pemantauan terhadap wilayah rawan karhutla. Pemerintah mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas.
Pemerintah Perkuat Mitigasi Kekeringan
Pemerintah Kabupaten Trenggalek melibatkan BPBD, TNI, Polri, Perhutani, pemadam kebakaran, pemerintah kecamatan dan pemerintah desa dalam menghadapi dampak musim kemarau.
Koordinasi dilakukan untuk memperkuat kesiapsiagaan, termasuk pemantauan wilayah rawan kekeringan, kesiapan armada distribusi air dan penanganan potensi karhutla.
Pemerintah juga terus memperbarui data wilayah terdampak. Data tersebut penting untuk menentukan prioritas penanganan sekaligus memastikan bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran.
Krisis Air Diperkirakan Masih Menjadi Ancaman
Dengan 18.915 jiwa terdampak kekeringan di 34 desa, persoalan ketersediaan air bersih masih menjadi salah satu ancaman utama selama musim kemarau di Trenggalek.
Sebanyak 1.209.000 liter air bersih yang telah disalurkan menjadi bentuk respons pemerintah terhadap kondisi tersebut. Namun, distribusi air harus terus dilakukan apabila sumber air masyarakat belum kembali normal.
Stefanus Triadi Admono mengatakan pemerintah akan menyesuaikan langkah penanganan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
“Penanganan akan terus kami lakukan sesuai perkembangan kondisi dan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak,” ujarnya.
Bagi ribuan warga Trenggalek, kemarau bukan sekadar persoalan cuaca panas dan berkurangnya hujan. Ketika sumber air mengering, masyarakat harus menghadapi persoalan mendasar untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Karena itu, selain distribusi air bersih, upaya mitigasi jangka panjang diperlukan agar masyarakat di wilayah rawan kekeringan tidak terus bergantung pada bantuan setiap kali musim kemarau datang.

