Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

DPW PKB Jatim Ajak Kadernya Pahami Cara Berjuang untuk Rakyat Lewat Bedah Buku

DPW PKB Jatim Ajak Kadernya Pahami Cara Berjuang untuk Rakyat Lewat Bedah Buku

SURABAYA KANALINDONESIA.COM : DPW PKB Jatim mendorong jiwa literasi untuk menambah wawasan dan kekuatan dalam memahami tugas para kader PKB dalam berpolitik. Salah satu nya dengan
secara masif menggelar diskusi Buku Sosialisme Islam buah Dua pemikiran besar yakni gagasan Ali Syariati dan HOS Tjokroaminoto. Tujuannya menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran ideologis serta membangun kembali semangat perjuangan kader.

Sekretaris DPW PKB Jatim Multazamudz Dzikri mengatakan, bedah buku ini adalah strategi dalam menguatkan kemampuan kader dalam berpolitik, selain kegiatan
konsolidasi organisasi, dan kerja-kerja elektoral.

Multadzamud menegaskan ini diwajibkan terutama di tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten/Kita

Langkah mengajak kadernya membaca, berdiskusi, dan membedah pemikiran tokoh-tokoh besar tentang Islam, keadilan sosial, dan perjuangan rakyat bukanlah sekadar agenda membaca dan membedah pemikiran tokoh. Lebih dari itu, diskusi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran ideologis serta membangun kembali semangat perjuangan kader.

Alasan lainnya yaitu agar kader partai tidak hanya memahami politik sebagai aktivitas untuk mendapatkan kekuasaan. Ada nilai, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada masyarakat yang harus terus dirawat.

“PKB bukan saja entitas partai politik yang selama ini digambarkan sebagai jalan merebut kekuasaan, lebih jauh dari itu, PKB merupakan wadah perjuangan bagaimana keadilan itu didapatkan,” ungkapnya.

Pandangan tersebut menjadi penting di tengah kecenderungan politik yang kerap lebih banyak diukur melalui perolehan suara, jabatan, dan kekuasaan. Padahal, politik juga memiliki dimensi pengabdian dan perjuangan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Pemikiran Ali Syariati dan HOS Tjokroaminoto yang menjadi bahan diskusi memberikan ruang bagi kader untuk membicarakan hubungan antara agama, pembebasan, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada rakyat.

Menurut Mukatadzamud, jika ditarik lebih jauh, geliat diskusi ini bisa dibaca sebagai upaya membangun tradisi intelektual di lingkungan partai. Kader tidak cukup hanya dibekali kemampuan berorganisasi dan keterampilan politik praktis, tetapi juga perlu memiliki kedalaman pemikiran.

“Sebab, tanpa landasan pemikiran yang kuat, politik berisiko berhenti sebagai rutinitas perebutan kekuasaan. Kader bisa saja aktif dalam struktur partai, tetapi kehilangan kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.

Multazamudz menegaskan, kader PKB harus selalu berdiri bersama masyarakat. Artinya, keberadaan kader tidak boleh hanya terasa ketika ada agenda politik atau momentum pemilu.

“Kader harus hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan, mendengar aspirasi, sekaligus ikut memperjuangkan jalan keluarnya,” kata dia. Nang

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita