Puasa Laksana Benteng

Oleh : Bahtiar H Suhesta

KANALINDONESIA.COM: Dalam tulisan terdahulu sudah disampaikan bahwa puasa yang datang tiap tahun merupakan peristiwa ulangan sebagai “latihan” bagi kita untuk kesempurnaan ibadah puasa dari tahun ke tahun. Ulangan itu dimaksudkan tidak lain untuk memperkuat sesuatu yang menjadi esensi puasa itu sendiri.

Apa yang diperkuat dalam syariat berpuasa itu?

Dari sekian keutamaan berpuasa, satu di antaranya yang esensi sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat tepat sasaran ini:

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa itu benteng atau perisai.” (Muttafaqun alaih).

Hadits sangat singkat ini menyerupakan puasa dengan benteng atau perisai. Mengapa puasa disebut sebagai benteng atau perisai?

***
Mari kita lihat makna kedua kata ini: ash-shiyam dan junnatun.
Shama-yashumu-shauman au shiyaman secara bahasa adalah “al-imsak” yang berarti “menggenggam erat, menahan, menjaga jarak, berpantang, dan berhenti”. Segala yang diam juga dikatakan sebagai shaum, karena diam artinya berhenti, menahan diri untuk tidak bergerak. Orang yang diam lisannya, yakni menahan diri dari berkata-kata, karenanya dikatakan juga sebagai “ash-shaim”, orang yang sedang diam, orang yang sedang shaum. Pak Quraish Shihab, penulis tafsir Al-Mishbah tersebut, menjelaskan bahwa “ash-shaum” digunakan oleh Al-Qur’an untuk makna menahan diri tidak mengucapkan sesuatu yang tidak berguna walau sesuatu itu benar.

Baca:  Pelajaran dari Histori Perintah Puasa

Di dalam Al-Qur’an, ketika Maryam tidak berbicara kepada manusia, ia mengatakan:

إِنّي نَذَرتُ لِلرَّحمٰنِ صَومًا فَلَن أُكَلِّمَ اليَومَ إِنسِيًّا
“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (shaum) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini. “ (Q.S. Maryam: 26).

Shaum dalam ayat tersebut bermakna puasa, yakni tidak berbicara dengan seorang manusia pun sungguh pun benar perkataannya. Namun shaum di sini masih boleh makan dan minum, karena pada permulaan ayat ini, Jibril berkata kepada Maryam untuk menggoyang-goyangkan pohon kurma agar buah kurma yang masak berjatuhan, lalu ia menyuruh Maryam untuk “makan, minum, dan bersenang hati.” Artinya, shaum-nya Maryam (dari menahan diri dari berkata-kata kepada manusia) tidak lantas juga melarang dirinya dari makan dan minum. Tetapi tetap disebut shaum.

Baca:  Pembagian Ta’jil Bertajuk AAU Peduli, AAU Berbagi

Sedangkan ash-shiyam bermakna khusus di mana secara syariat, seperti kata Imam Ibnu Hajar al-Atsqalani, bahwa ash-shiyam berarti:

“Menahan secara khusus, pada waktu yang khusus, dari sesuatu tertentu, dengan syarat tertentu.” Ash-Shiyam itu menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri dan hal-hal yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Jadi shiyam itu tidak “sekedar berpuasa”; di mana puasa itu berasal dari upawasa (sansekerta) yang artinya hanya menahan diri untuk tidak makan dan minum saja. Tetapi, shiyam itu lebih holistik.

***
Di sisi lain, junnatun berarti benteng atau perisai. Secara filosofis, benteng atau perisai juga bermakna berhenti (perisai atau benteng yang tidak berhenti tentu tidak berfungsi) untuk menahan sesuatu yang mendesaknya. Menahan laju serangan musuh, menjaga jarak, dan berpantang dari musuh. Oleh karena itu, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa maksud “benteng” atau “perisai” itu sebagaimana maksud perisai yang digunakan seseorang dalam peperangan. Ash-shiyamu junnatun kajunnati ahadikum minal qital.

Baca:  Puasa yang Utuh: Badan, Jiwa, dan Ruh

Jadi, kedua kata ini nyaris sama artinya secara bahasa. Sehingga bisa dikatakan “ash-shiyamu kal junnatin”, shiyam itu laksana benteng atau perisai.

Apa yang membuat keduanya sama? Ya, tentu saja fungsinya. Ketika benteng atau perisai tidak bisa menahan dari serangan musuh, maka ia telah kehilangan fungsinya sebagai benteng atau perisai. Demikian juga berpuasa, jika tak bisa menahan diri dari berbagai hal yang mengurangi pahalanya, apalagi yang membatalkannya, tentu saja puasa yang dilakukan telah kehilangan fungsinya “menahan diri” dari yang membatalkan atau mengurangi pahalanya sebagaimana benteng atau perisai kehilangan fungsinya.
Dan ternyata, mereka yang berpuasa tetapi kehilangan fungsi puasanya sebagai benteng ini jumlahnya tidak sedikit. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mensinyalir dalam haditsnya, betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi benteng pertahanannya jebol hingga yang ia dapatkan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga saja. Orang yang seperti ini tak ada bedanya dengan orang yang tidak berpuasa.

Wallahu a’lam.

Bahtiar Hayat Suhesta