Merenungkan Kembali Makna Idul Fitri

Oleh : Bahtiar H. Suhesta

Ramadhan telah pergi. Dan kini, Idul Fitri tiba.

Banyak masyarakat kita yang memaknai Idul Fitri ini secara salah kaprah. Bahwa Idul Fitri itu bermakna “kembali kepada fitrah kesucian.” Akibat pemaknaan yang salah kaprah itu, sikap yang kemudian terbentuk juga kiranya menjadi kurang tepat atau bahkan bisa menjerumuskan.

Jika merujuk makna asli dalam bahasa Arab, Fitri atau al-Fithriberasal dari kata “afthara” yang berarti “memutuskan puasa karena melakukan pembatalnya.” Dengan kata lain “berbuka kembali” alias “bolehnya kembali makan dan minum serta aktivitas halal lain yang diharamkan selama berpuasa”. Di kalangan pondok pesantren, untuk menyebut makan pagi alias sarapan digunakan kata al-futhur atau cukup futhur; yang satu akar kata yang sama dengan al-fithri / afthara. Dalam sebuah hadits disebutkan:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ

Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (pada hari idul fithri) kalian karena melihat hilal. Sekiranya awan menutupi kalian, maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tiga puluh (hari). (HR. Tirmidzi, Nasai, Ahmad, Al-Hakim, dsb).

Jadi, al-fithri berarti saat dimana kita setelah selesai melaksanakan puasa di bulan ramadhan boleh makan dan minum lagi seperti sebelum ramadhan.

Sedangkan ‘idberarti “suatu perkara yang penting atau sakit yang berulang”. Bisa juga sesuatu yang berulang tersebut adalah “sesuatu yang dirindukan atau semacamnya”. Kita sering mengartikan “berulang” itu dengan “kembali”. ‘Id juga bisa berarti “setiap hari yang terdapat perayaan di dalamnya” – sehingga mestinya kita kurang tepat mengucapkan ‘selamat hari raya idul fitri’. Dengan demikian, ‘idul fithrilebih tepat dimaknai sebagai ‘kembali (berulangnya) berbuka / makan dan minum‘ sebagaimana sebelum puasa ramadhan.

Sementara di masyarakat kita, ‘idul fithri sering dimaknai ‘kembali kepada fitrah / kesucian’. Bahwa setelah kita purna berpuasa selama sebulan penuh, dosa-dosa kita habis terkikis, suci tak bernoda, seperti kertas putih tanpa goresan tinta, seperti bayi-bayi yang baru dilahirkan ibunya. Barangkali pemaknaan ini berangkat dari beberapa hadits, diantaranya:

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan semata mengharap ridha Allah subhanahu wata’ala, maka akan diampuni dosanya setahun yang telah lalu. (H.R. al-Bukhari-Muslim)

Baca:  Polres Ponorogo Dengan Kekuaan Penuh Antisipasi Takbir Keliling

Barangsiapa berpuasa dan menegakkan (malam)-nya semata mengharapkan ridha Allah subhanahu wata’ala, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ibunya melahirkannya. (H.R. Imam Ahmad, an-Nasai, Ibnu Majah)

Sepertinya ramadhan itu kawah candradimuka yang menggoreng dan membakar dosa-dosa kita, hingga ketika keluar dari ramadhan, hilang musnahlah semua dosa-dosa itu. Selepas ramadhan jadilah kita seperti kertas putih tanpa noda, seperti bayi mungil tanpa dosa yang baru keluar dari gua garba ibunya.

Namun kalau kita telusuri, al-fithridalam bahasa Arab tidak bermakna kesucian. Kecuali jika yang dimaksudkan adalah al-fithrah, yang bermakna “sifat asli” atau “watak asli”. Atau bermakna pula “tabiat selamat yang belum tercampur ‘aib” atau kita menyebutnya’suci’ atau ‘kesucian.’ Barangkali di sinilah letak kesalahkaprahan itu. Apalagi ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia, fitri diartikan sebagai ‘berhubungan dengan fitrah (sifat asal)’ yang tidak lain adalah suci atau kesucian. Sehingga ‘idul fithri (pakai tha’) disamakan dengan idul fitri (pakai huruf T) yang kemudian dimaknai “kembali kepada kesucian”. Ada campur aduk antara fithri dan fithrah, padahal keduanya berbeda makna.Dengan demikian, jika yang dimaksud adalah “kembali ke kesucian”, maka mestinya kita berucap ‘Selamat ‘Idul Fitrah’ dan bukan ‘Selamat Idul Fitri’ :).

***

Ditinjau dari sisi tasawuf, kita seyogyanya tidak membangga-banggakan amal ibadah setelah melakukannya. Pada dasarnya, ibadah itu adalah wujud ketundukan, ketawadhuan, dan kerendahan diri kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena itu, kita hanya layak berharap kiranya amal ibadah kita diterima-Nya. Bukan seolah membanggakan diri bahwa kita telah kembali kepada kesucian. Bahwa segala dosa-dosa vertikal kita selama puasa telah dilebur habis oleh Allah subhanahu wata’alasehingga begitu usai ramadhan, kita seperti merasa bersih dari dosa.

Padahal amal ibadah kita diterima atau tidak tergantung pada Allahsubhanahu wata’ala. Bukankah ketika berbuka kita diajarkan berdoa: … watsabatal ajru, insyaAllah. Dan semoga tetap pahala ini, kalau Allah menghendaki? Apalagi syarat dihapuskannya dosa-dosa yang telah lalu dalam hadits di atas juga tidak mudah. Harus puasa yang dilandasi dengan iman dan ihtisab (ikhlas, semata mengharap ridhonya). Karena itu, tidak lantas siapa saja yang berpuasa di bulan ramadhan akan bersih dosa-dosanya selepas ramadhan. Apalagi rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mensinyalir, betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.

Baca:  Bulog Jamin Stok Beras Jelang Idul Fitri di Tengah Pandemi COVID-19 Aman dan Tercukupi

Oleh karena itu, sikap yang lebih tepat selepas kita ditinggalkan ramadhan tidak lain adalah sikap takut kalau-kalau amal ibadah kita tidak diterima oleh Allahsubhanahu wata’ala. Sikap penuh pengharapan kepada Allah subhanahu wata’ala, kiranya Allah berkenan menerima amal ibadah kita selama bulan ramadhan yang lalu.

Sungguh agama kita menganjurkan bahwa pasca ramadhan, dalam suasana ‘idul fithri, kita dianjurkan saling berucap dan berdoa, taqobbalallahu minna waminkum. Semoga Allah menerima amal ibadah kami (selama ramadhan) dan juga amal ibadah Anda.

Ini adalah doapengharapan. Bahkan konon para sahabat mengucapkan doa ini selama hampir setahun, karena takut jangan-jangan puasa selama sebulan kemarin tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala.

Sungguh berbeda memang keadaan di Makkah-Madinah dengan Indonesia ini. Ketika Ramadhan datang, mereka begitu bergembira. Semarak sebulan penuh. Semalam suntuk ramai dengan aktivitas di rumah, di surau, di masjid. Tetapi begitu 1 Syawal tiba, suasana langsung sepi sekali. Sunyi. Tak ada kunjung-mengunjungi. Tidak ada mudik. Suasananya susah. Sedih. Suasana berkabung. Karena harus berpisah dengan ramadhan yang telah pergi.

Di Indonesia? Begitu lebaran tiba, kita bergembira ria. Baju baru. Mobil baru. Antri mudik dimana-mana. Kunjung-mengunjungi sanak-saudara. Berjuta SMS diketik dan saling dikirimkan orang di seluruh nusantara. Juga Whatsapp, Facebook, Twitter, IG, dan medsos lainnya. Belum cukup, banyak yang kini menggelar acara halal bihalal dengan kerabat, teman sekolah, tetangga RT/RW, teman sekantor, teman sekerja, dan sebagainya. Dan kita mendengung-dengungkan ‘kembali kepada kesucian.’ Dosa kita telah habis dihapus selama Ramadhan.

Padahal yang sebenarnya terjadi, kita hanya kembali kepada hari-hari biasa. Kita kembali makan dan minum seperti sebelum ramadhan. Yang sebenarnya terjadi, kita telah ditinggalkan tamu agung yang kita nanti-nantikan datangnya sejak setahun yang lalu; yang kini pun ia telah pergi. Kita bergembira ria menyambut hari kemenangan, kita merayakan kembali kepada kesucian. Padahal seharusnya kita menangis ditinggalkan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah subhanahu wata’ala, yang hanya kita jumpai setahun sekali.

Baca:  Puasa Bulan Penuh Harapan

***

Apakah acara maaf-maafan, halal bihalal, istihlal, atau apapun namanya, baik langsung atau via SMS atau media lainnya yang kita lakukan dalam bulan Syawal ini karenanya salah?

Ya, tentu tidak. Tetapi meminta maaf tidak harus menunggu lebaran tiba, bukan? Bisa kapan saja, dan utamanya segera begitu melakukan kesalahan. Lagi pula maaf-maafan di saat lebaran kita ini biasanya berhenti pada tataran simbolik saja. Pokoknya mohon maaf lahir batin. Padahal hakikatnya meminta maaf tentu dengan menyebutkan kesalahannya apa, sehingga mendapatkan halal dari yang bersangkutan. Masalahnya jika kesalahan adami itu tidak clear di dunia, ia akan dipertanyakan di akhirat kelak dan boleh jadi mengancam tabungan pahala kebaikan kita.

Karena itu, marikita ber-husnuzhzhan ketika meminta maaf dan memberikan maaf, meski via SMS sekalipun, yakni dilambari dengan hati yang tulus ikhlas. Semoga Allah subhanahu wata’alabenar-benar meniupkan rahmat-Nya sehingga orang menerima dan memberikan maafnya secara tulus ikhlas atas kesalahan-kesalahan kita dan hilanglah hak-hak adami yang kita langgar kepadanya.

Semoga amal ibadah puasa kita, tarawih, tilawah, shadaqah dan segala amal shalih kita selama ramadhan kemarin diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Seluruh kesalahan dan dosa kita diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala. Dan dijadikannya kita orang-orang yang mencapai derajat muttaqin, yang imannya bertambah berlipat-lipat selepas ramadhan, dan tidak sekedar baju kita baru mengkilat-kilat.

Laisal ‘id liman labisal jadid, walakinnal ‘id liman imaanuhu yazid.

Selamat Idul Fitri 1438 H

Taqabbalallahu minaa waminum

Minal ‘aaidin wal faaizin

Mohon maaf lahir dan batin

Bahtiar Hayat Suhesta

 

[]