Rindu Keluarga, Nur Alimah Priambodo Video Call Sebagai Penawarnya

LANALINDONESIA.COM, JAKARTA: Kerinduan  akan keluarga pasti menghinggapi atlet ski air SEA Games Malaysia 2017, Nur Alimah Priambodo. Apalagi, bungsu tiga bersaudara ini menjalani pemusatan latihan persiapan SEA Games 2017 di Danau Sunter Jakarta Utara yang jauh dari rumah orang tuanya di Sidoardjo, Jawa Timur.

Terkadang, kedua orang tianya Rahardjo Priambodo dan Nuniek Nurdiyaty yang menyambangi.

“Biasanya kakau saya video call dengan bapak dan ibu serta kakak dan abang untuk mengobat rindu,” kata gadis kelahiran Sidoardjo, 29 Agustus 1998 yang ditemui saat menyambut kedatangan Chief de Mission (CDM) Aziz Syamsuddin di Danau Sunter Jakarta Utara, Selasa (4/7/2017).

Alimah yang baru lulus SMA dan bercita-cita menjadi dokter ini berasal dari keluarga atlet ski air. Kedua orang tuanya adalah mantan atlet ski air. Begitu juga kakaknya, Nur Tsu Rayya Priambodo dab abangnya, Anur Akbar Imansyah Priambodo yang pernah tampil di kejuaraan Asia dan Pekan Olahraga Nasional. “Saya dari keluarga ski air,” katanya.

Meski usia muda, Alimah bukan pertama kali tampil pada ajang SEA Games. Di SEA Games Singapura 2015, dia mengoleksi 2 perak dan 1 perunggu. “Saya ingin meraih medali emas di SEA Games Malaysia 2017 nanti,” tegas Alimah yang turun di nomor jump, trick dan overall putri.

Dalam upaya memenuhi ambisi tersebut, gadis pirang berkuncir ini mengaku selalu menjalani latihan serius.

“Saya selalu ingat pesan kedua orang tua agar menjalani program latihan yang diberikan pelatih dan tampil terbaik demi bangsa dan negara,” kata Alimah yang mengaku saingan terberat datang dari atlet ski air Singapura, Thailand dan Malaysia.

Meski mendapat bantuan peralatan dari KONI Jatim, Alimah mengaku tetap mengeluarkan dana dari kocek sendiri.

“Bantuan peralatan latihan memang ada dari KONI Jatim tetapi peralatan kecil lainnya kan harus dibeli sendiri,” jelasnya.

Berbicara masalah peralatan tanding yang belum dipasok hingga saat ini, dia meminta agar secepatnya diusahakan.

“Kalau ada peralatan baru kan kita tidak lagi khawatir ada kerusakan. Tetapi, kalau mengandalkan peralatan lama terlalu riskan,” tegasnya. (gardo)