Keberagaman Gender dan Seksualitas di Indonesia

    ilustrasi

    KANALINDONESIA.COM : Beragamnya pendekatan dan teori tentang permasalahan pembagian peran kedudukan, dan tugas antara laki-laki dan perempuan. Oleh berbagai pihak termasuk para peneliti, yang menetapkan pengelompokkan idividu berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas sesuai norma-norma, adat istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan masyarakat, membuat mencuatnya pembahasan gender. Namun seiring dengan perkembangan zaman, permasalahan gender menjadi semakin bias. Seperti analisis gender yang dilakukan oleh Mansour Fakih yang mencoba memberikan makna, konsep, ideology dan praktik hubungan antara perempuan dan laki-laki, serta implikasinya terhadap aspek-aspek kehidupan lain yang lebih luas.

    Persoalan laki-laki dan perempuan terbentang dalam spektrum yang sangat luas, mulai dari setiap benak individu, norma agama, hingga konstitusi Negara. Namun perlu dipahami bahwa di Negara Indonesia, yang mempunya Pancasila sebagai dasar Negara dan sumber konstitusi, tidak pernah ada pembedaan antara perempuan dan laki-laki.

    Bisa kita ketahui perempuan dan laki-laki yang ada di Negara ini sebelumnya mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan suaka politik yang sama setiap individunya, seperti diatur dalam undang-undang dasar kita, namun semenjak masuknya wacana gender dan pembiasan gender, sekarang kaum perempuan mendapatkan kuota 30% jatah kursi di parlemen, dan itu diatur dalam undang-undang partai politik di Negara ini, dan bisa kita ketahui bahwa dalam undang-undang dasar sudah dijelaskan bagaimana hak-hak dan kewajiban setiap warga Negara. Tidak ada pembedaan antara hak dan kewajiban warga Negara laki-laki dan perempuan.

    Dalam sisi ini terlihat secara jelas dan nyata bahwa pembahasan gender merupakan suatu wacana keilmuan yang disusupkan oleh penganut paham liberal, dimana oknum-oknum tersebut mempunyai cita-cita untuk menciptakan Negara yang liberal, karena syarat berdirinya Negara liberal haruslah terciptanya masyarakat yang mempunyai daya beli tinggi, dan masyarakatnya mempunyai pola berfikir modern dalam hal ini lebih cenderung konsumtif. Dan keterkaitan pembahasan wacana gender akan nampak jika setiap laki-laki dan perempuan mampu mempunyai kedudukan yang jelas dan nyata, dimana mereka bersaing dalam hal memperoleh pekerjaan yang layak, maka akan terjadi persaingan yang hebat antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh pekerjaan termasuk memperbaiki tingkat kesejahteraannya.

    Jika semua masyarakat menjadi lebah bekerja karena saling bersaing untuk memperoleh kedudukan yang sama, maka secara otomatis pendapatan atau tingkat perekonomian setiap individunya akan meningkat, dan secara otomatis mereka mempunyai daya beli yang tinggi, dan diimbangi dengan kebiasaan masyarakat modern yang konsumtif, maka pihak-pihak atau Negara pemroduksi seperti Jepang, yang merupakan produsen mobil dan sepeda motor bisa meraup keuntungan yang banyak dari Negara ini.

    Jika semua masyarakat kita sudah terbiasa dengan semuanya itu, maka lahirlah dunia ke tiga yang nantinya merupakan pasar bagi barang-barang produksi mereka. Inilah kenapa pembahasan gender dan seksualitas sangat bertolak belakang dengan undang-undang dan adat kebudayaan masyarakat kita, karena dasar Negara ini berasal dari norma kebiasaan dan kebudayaan masyarakat. Jika kebudayaan dan norma-norma sudah bergeser dalam hal ini menjadi bias, maka sudah pasti dasar Negara dan konstitusi kita juga terancam, untuk itu marilah kita kembalikan kebudayaan masyarakat dan bersatu tanpa ada pengelompokan dan persaingan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan, karena di Negara ini semuanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama, terhadap Negara dan masa depannya.(elo)