Banyak Broker, Harga Pembelian Gula Jauhi Harapan Petani

petani di Jombang tebu saat panen

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Petani tebu mengeluh akibat dari banyaknya broker yang memainkan harga gula di Jombang, Jawa Timur. Dan persoalan ini berdampak pada tingkat kesejahteraan petani.

Wanto (53) salah satu petani tebu asal Sumobito mengatakan, dengan harga pembelian oleh broker (red: swasta) petani masih dibebani lagi biaya PPN sebesar 10 persen. “Pada realisasi giling tahun ini, ada dua periode pembelian harga masih Rp. 10. 390,- pada periode pertama, dan Rp. 10.450,- pada periode kedua,” katanya.(10/07/2017)

Lanjut Wanto, petani masih harus dibebani PPN sebesar 10 persen. Dan katanya yang membeli pemerintah, namun pada realisasinya giling tahun ini masih dibeli broker.

“Mestinya, pemerintah minimal mematok harga pembelian gula itu satu setengah kali harga beras. Katakanlah kalau beras delapan ribu per kilo, harusnya gula seharga 12 ribu rupiah, itu harga yang diterima petani, bukan harga eceran tertinggi lho, karena tebu itu umurnya satu tahun,” tukasnya.

Dari data yang dihimpun kanalindonesia.com, harga pembelian gula saat ini sekitar Rp 10. 500,- sebelum di potong PPN sebesar 10 persen. Dan untuk per hektarnya rata – rata petani menerima uang sebesar 47 juta rupiah dari hasil panen tebu, dengan rentang waktu satu tahun, dengan syarat rendemen harus mencapai angka tujuh. Angka 47 juta tidak serta merta diterima petani karena masih dipotong PPN sebesar 10 persen, sedangkan biaya produksi tebu awal hingga panen mencapai 30 juta rupiah.

Sementara itu Hadi Purwanto selaku Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Jombang, saat dikonfirmasi melalui aplikasi WhastApp (WA), pihaknya belum memberikan komentar terkait langkah yang akan diambil pihaknya dalam mengatasi masalah tersebut.(elo)