Diduga Tak Punya IPR, Lahan Pertanian Dialih Fungsikan

lahan pertanian yang dialihkan sebagai lahan daratan dengan cara diurug

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Seperti diberitakan sebelumnya lahan pertanian produktif seluas 2 Hektar lebih yang ada di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Jombang Jawa Timur, akan didirikan gedung industry penetasan telor ayam.

Namun perubahan pemanfaatan lahan pertanian produktif ini menjadi lahan daratan diduga tidak mempunyai Izin Pemanfaatan Ruang (IPR) dari pemerintah daerah Kabupaten Jombang. Hal ini diungkapkan oleh Ainun Najib selaku Kepala Desa Watudakon, pada kanalindonesia.com, pada Selasa 18 Juli 2017.

“ untuk IPR belum ada mas, karena pihak pemerintah Desa belum pernah dimintai rekomendasi terkait untuk izin itu (red : IPR),” kata Ainun.

Masih menurut penjelasan Ainun, pihak pemilik lahan yang membangun industry penetasan telur, belum melakukan komunikasi ke pihak Desa maupun masyarakat, hanya komunikasi dengan kepala dusun setempat dan beberapa warga sekitar.”  Kita hanya pernah dimintai izin untuk jembatan, kalau soal IPR belum pernah mas,” tegasnya.

Lanjut Ainun, kalau ingin lebih tau jelasnya, bisa langsung mendatangi pemilik lahan.” Biar jelas Tanya langsung ke Pak Iwan Gunawan, ke DMC di Desa Gumulan,” tukasnya.

Burhan selaku tokoh masyarakat Desa Watudakon, menyayangkan atas perubahan lahan prtanian produktifif tersebut menjadi gedung industry.” Ya itu kan tanah eks gogolan yang merupakan lahan pertanian produktif. Dalam setahun di lahan pertanian itu bisa ditanami dua kali tanaman padi, kalau sampai itu berubah jadi lahan industry kan sungguh saying sebenarnya mas,” paparnya.

Imbuh Burhan, seharusnya pemerintah bisa segera menyelesaikan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) agar kejadian seperti ni tidak terjadi.” Kalau soal tidak ada IPR itu kan kewenangannya Dinas terkait untuk menindak. Seandainya Perda PLP2B jadi kan hal seperti ini tidak terjadi mas,” keluhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Minardi yang merupakan warga setempat, mengaku belum ada sosialisasi dari pihak pemilik lahan dan Desa mengenai rencana akan dibangunnya industry penetas telor. “ Mengenai akan berdirinya industri dilahan pertanian tersebut, saya selaku warga belum mengetahui proses  berdirinya industri di atas lahan pertanian itu,” ujar Minardi.

Masih menurut Minardi, saya juga tidak tahu alur pelepasan lahan eks tanah gogol tersebut. “Justru saya tau nya dr warga yang menanyakan ke saya, karena kurangnya ato minimnya informasi atau sosialisasi hingga, menjadi pertanyaan oleh warga, kalo ada informasi saya rasa tidak akan terjadi miskomunikasi seperti skarang,” pungkasnya.

Sementara itu Iwan Gunawan selaku pemilik lahan saat ditemui kanalindonesia.com, di salah satu industry pabrik penetasan ayam DMC yang ada Desa Gumulan, pihaknya sedang tidak berada dilokasi, dan belum bisa ditemui.(elo)