Babak Baru Dugaan Pungli Prona Sudimoro, Polisi Panggil Sejumlah Saksi

ilustrasi pungli

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Adanya dugaan praktik pungutan liar (pungli) yang dilakukan aparatur Desa terhadap program Proyek Operasi Agraria (Prona) 2017 di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang kini diselidiki pihak Kepolisian, telah memasuki babak baru. Sejumlah saksi mulai dipanggil pihak Satreskrim Polres Jombang

AKP Wahyu Norman Hidayat selaku Kasat Reskrim Polres Jombang, mengatakan bahwa pada tahap peyelidikan adanya dugaan pungutan liar program sertifikasi masal di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, pihaknya sudah meluncurkan surat pemanggilan. ”Kita sudah luncurkan surat pemanggilan pada sejumlah pihak terkait,” kata Norman pada kanalindonesia.com, pada Kamis 20 Juli 2017.

Karena masih tahap penyelidikan pihaknya, belum bisa memberikan keterangan lebih jauh pihak mana saja yang dipanggil. ” yang kita panggil tentunya pihak-pihak terkait, salah satunya dari oknum Pemdes. Dan mengenai perkara ini pada prinsipnya, penyelidikan jalan terus mas,” tandas Norman.

Diduga aliran dana pungli tersebut, dipergunakan untuk biaya pengganti tanda tangan dan sebagian masuk kas Desa, seperti yang diungkapkan oleh salah satu perangkat Desa yakni Bari selaku Kepala Dusun Paritan Desa Sudimoro, yang saat itu menghadiri acara sarasehan yang dilakukan oleh warga setempat pada 3 Juni 2017.” Sebagian uangnya untuk biaya pengganti tanda tangan dan sebagian uangnya untuk kas Desa,” kata Kasun Bari pada acara sarasehan warga.

Hal ni juga dibenarkan oleh SK warga setempat yang menjadi korban pungli, yang dilakukan oleh aparatur Desa Sudimoro.” Iya mas waktu itu saya tanyakan ke Pak Kasun Bari, pada acara sarasehan sebelum puasa soal kejelasan biaya pembuatan prona dan jawaban pak Bari, uangnya untuk ganti tanda tangan dan masuk ke kas Desa,” ujar SK yang mewanti-wanti namanya untuk dipublikasikan.

Dari data yang dihimpun kanalindonesia.com,  sebanyak 24 desa yang mendapat jatah program prona 2017. Tersebar di 12 kecamatan, salah satunya Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh dengan estimasi jatah rata-rata 500-600 bidang per-desa. Jika tiap Desanya ada 500 bidang dan per bidangnya dikenakan biaya 700 ribu, maka uang yang terkumpul nilainya ratusan juta rupiah.(elo)