Suami Kasun Tempuran, Pundong, Diwek, Jombang, Korban Pengroyokan Malah Ditahan

ilustrasi pengeroyokan
ilustrasi pengeroyokan
KANALINDONESIA.COM : Tomi(51) warga Dusun Tempuran Desa Pundong, Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang, yang merupakan suami dari Kasun Tempuran menjadi korban pengroyokan oleh warganya sendiri.
Pelaku pengroyokan yakni dilakukan Mulyono (55) dan Junaidi Romadona (28). Kejadian itu sendiri akibat adanya kesalahpahaman antara Junaidi Romadona, Mulyono, dan Tomi, sehingga berujung pengroyokan dan harus berurusan dengan hukum.
Kejadian ini terjadi pada Minggu(26/06/2016) jam 8 silam dengan TKP di area IPAL.

Kejadian bermula, saat adanya perkara lama yang hingga hari ini masih menjadi ganjalan hati dibeberapa pihak, khususnya pihak yang mengklaim tanah tersebut. Padahal tanah tersebut merupakan tanah milik negara namun diakui kepemilikannya oleh Mulyono beserta istrinya yakni Ponisri, meskipun perkara sengketa tanah ini sudah berlangsung lama namun bagi Mulyono dan istrinya, merupakan perkara yang hingga hari ini belum selesai.
Diatas tanah tersebut dibangun sebuah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), yang merupakan aset pengolahan limbah yang dimiliki oleh desa dan digunakan untuk keperluan masyarakat desa, khususnya warga Dusun Tempuran.

Suharto(47) warga Pundong menceritakan kejadian yang sebenarnya, “bahwa saat itu ikut bekerja bakti untuk membersihkan IPAL yang merupakan agenda rutin warga setempat, saat kejadian itu saya beserta Moh.Nur, Mashudi, Takim, bekerja bakti mulai pukul 7 pagi, saat mau kerja bakti tiba-tiba kami di halang-halangi oleh Pak Mulyono dengan Bu Sri. Selanjutnya jam Pak Tomi datang membawa tangki hendak menyemprot rumput. Saat hendak melepas tangki, tak sengaja tangannya menyentuh tubuh pak Mulyono sehingga Pak Mulyono sempat berjalan mundur dan agak sempoyongan karena area tersebut memang kondisi tanahnya tidak rata,” paparnya.

Dikatakanya,” dari kejauhan Junaidi Romadona yang merupakan anak dari pak Mulyono langsung lari dan hendak memukul Pak Tomi, hal ini dikarenakan Pak Tomi dikira memukul Pak Mulyono, saat itu saya melerai keributan itu dengan Mashudi, saya memegangi Dona dan Mashudi memegangi Pak Mulyono, sedangkan Pak Tomi hanya berdiam diri karena bingung tak tau sebabnya Dona marah-marah dan hendak memukulnya,” tegasnya.

Masih lanjut Suharto,” namun ketika di jalan raya saat hendak pergi, tiba-tiba Dona dengan Mulyono kembali menghajar secara membabi buta saudara Tomi, setelah itu masyarakat sekitar melerai, dan segera melaporkan ke Polsek Diwek,” bebernya.

Setelah adanya pelaporan tersebut, kedua tersangka belum juga ditahan, namun setelah lebaran, Kamis(14/07/2016) mereka baru ditahan oleh Polsek Diwek dengan dikenakan pelanggaran pasal 170 KUHP yakni pengroyokan. Namun yang menjadi aneh adalah pada Selasa(19/07/2016) muncul surat penahanan untuk Pak Tomi dengan pelanggaran pasal 351 KUHP.
Setelah muncul surat itu akhirnya Tomi di tahan di Polsek Diwek. Hal ini memicu kemarahan warga setempat, karena dianggap adanya praktek suap yang dilakukan oleh oknum Polsek.

Sri Handayani selaku Kepala Desa Pundong membenarkan adanya keresahan masyarakatnya,” masyarakat merasa resah mas, dan besok masyarakat berencana untuk demonstrasi di Polsek Diwek dengan tuntutan untuk membebaskan Pak Tomi. Karena menurut warga Pak Tomi tidak bersalah dan justru Dona dan Pak Mulyono itu, biang onar di Dusun Tempuan, makanya warga besok secara pribadi ingin demo di Polsek,” tegasnya.

Selain itu ditambahkanya,” saya berharap hukum diterapkan dengan seadil-adilnya sehingga masyarakat saya tidak harus melakukan demo, dan saya berharap agar pihak-pihak terkait saling sadar diri dan memafkan agar permasalahan ini cepat selesai,” pungkasnya.
(an)