Ratusan Warga Ngawi Berdesakan, Rebutan Gunungan

Rebutan Gunungan bersisi hasil bumi di depan Pendopo Wedya Graha Ngawi (foto : dik_kanalindonesia.com)
Rebutan Gunungan bersisi hasil bumi di depan Pendopo Wedya Graha Ngawi (foto : dik_kanalindonesia.com)
KANALINDONESIA.COM :Ratusan warga Ngawi, Jawa Timur, saling berebut Gunungan dalam Kirab Pusaka yang digelar pemerintah daerah setempat, Rabu (20/07/2016).

Tidak peduli dengan adu gontok bahkan kena sikut ratusan warga saling merebutkan Gunungan setinggi dua meter yang berisi hasil bumi seperti makanan, sayuran dan buah. Warga meyakini bahwa makanan dan hasil bumi dalam Gunungan akan mendatangkan berkah dikemudian hari.

Dua buah Gunungan itu yakni Gunungan jaler atau pria, dan Gunungan estri atau perempuan tadinya diarak dari dalam Balai Desa Ngawi Purba dengan kawalan Prajurit Bergoto Kraton Solo. Kemudian dibawa menuju Alun-Alun Merdeka Ngawi untuk didoakan oleh pemuka agama dan setelahnya Bupati Ngawi Budi Sulistyono atau biasa dipanggil Kanang membagikan kepada warga.

Tradisi berebutan Gunungan di kalangan warga dikenal dengan ngalap berkah. Artinya, warga yang berhasil mendapatkan hasil bumi dalam gunungan dipercayai akan mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan acara tersebut selama ini baru digelar sebanyak dua kali oleh Pemkab Ngawi.

“Soal berkah dari gunungan saya kira bisa percaya dan tidak tetapi kenyataanya warga cukup antusias untuk merebutkan isi gunungan itu sendiri. Tetapi menurut saya istilah berkah itu mempunyai makna luas artinya meski saling gontok mereka toh rukun-rukun saja,” kata Sudjatmiko warga Jalan PB Sudirman Ngawi, Rabu (20/07).

Ditempat yang sama Bupati Ngawi Budi Sulistyono/Kanang mengharapkan ritual budaya yang dikemas kedalam Kirab Pusaka dan Gunungan akan menjadi salah satu destinasi wisata didaerahnya. Dia menilai, ritual budaya yang digelar dibawah besutanya dianggap sukses dilakukan.

“Kirab pusaka maupun rebutan gunungan jujur baru kita gelar beberapa kali namun ternyata warga masyarakat menilai positif tentang hal ini. Maka sudah kewajiban acara ini pun kita maknai cukup sakral apalagi menyangkut budaya,” kata Kanang .

Pungkasnya, dengan dua tradisi yang dipadukan dalam satu kontek acara budaya dia berharap sebagai bentuk kemanungalan antara warga dan pemimpin serta sebaliknya demi membangun Kabupaten Ngawi yang ‘gemah ripah loh jinawi karto toto tur raharjo’.

(dik)