Mantan Panglima TNI Panen Padi Tahan Hama, Di Jombang

Ketua HKTI Jenderal TNI (Purn) Moeldoko saat panen raya padi di Dusun Kedungboto Desa Kedungotok

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Jenderal TNI (purn) Moeldoko, Mantan Panglima TNI yang juga Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), melakukan panen raya padi tahan hama varietas M400 di Dusun Kedungboto, Desa Kedungotok, Kecamatan Tembelang, Jombang Jawa Timur pada, Jumat 21 Juli 2017.

Sebelum melakukan panen, Muldoko juga  berdialog dengan petani yang menanam varietas tersebut. Menariknya, meski lahan warga sekitar diserang hama wereng, namun bibit baru tersebut tetap. “Varietas ini memang tahan hama wereng. Umurnya juga lebih pendek dari padi pada umumnya,” kata Sahlan (63), pengurus Gapoktan Kedungboto saat berdialog dengan Moeldoko.

Sahlan memaparkan, dirinya memiliki lahan seluas 3 hektar. Seluruh lahan tersebut ditanami padi varietas baru M400. Walhasil, padi tersebut tumbuh sangat bagus. Anakan dan bulirnya cukup banyak. “Nasinya cukup pulen. Hasil panen juga banyak. Setiap hektar bisa menghasilkan 8,9 ton. Padahal padi pada umumnya jauh di bawah angka tersebut,” ujarnya.

Masih menurut Sahlan, bahwa pihaknya mengakui biaya operasional cukup tinggi, karena semuanya menggunakan sistem organik. Mulai pemupukan hingga penyemprotan. “Biaya operasionalnya lumayan mahal. Setiap hektar sekitar Rp 16 juta,” paparnya.

Sementara itu, Moeldoko mengatakan jika varietas unggul tersebut merupakan hasil riset yang dilakukan HKTI. Bahkan, bibit tersebut sudah mendapat sertifikasi dari Kementerian Pertanian. Pihaknya berharap, seluruh petani akan menggunakan bibit tersebut.

Moeldoko juga membeberkan sejumlah keunggulan bibit varietas M400. Diantaranya, di tengah anomali cuaca yang tidak pasti, tanaman padi M400 masih tegak berdiri. “Bahkan, saat varitas lain digempur hama wereng, M400 tak tak tersentuh sama sekali. Ini salah satu yang kami lakukan untuk merubah nasib petani, yakni menciptakan bibit unggul,” urainya.

Lalu bagaimana dengan keluhan petani terkait ongkos produksi yang mahal? Moeldoko menuturkan, semua pihak harus fair dalam melakukan kalkulasi. Yakni, hasil panen dikurangi biaya operasional. Setiap hektar biaya operasionalnya paling boros Rp16 juta.

“Namun jika dibanding dengan hasil yang mencapai 8,9 ton, keuntungan petani jauh lebih banyak. Sudah begitu, karena sistem M400 menggunakan organik murni, maka biaya operasional semakin hari semakin berkurang,” tukasnya.(elo)