Murid Overload, MI Sulursewu Berharap Ruang Kelas Ditambah

KANALINDONESIA.COM, NGAWI: Madrasah Ibtidaiyah (MI) PSM Sulursewu yang berada di Desa Teguhan, Kecamatan Paron, Ngawi, Jawa Timur, selama 6 tahun terakhir menunjukan peningkatan signifikan baik mutu pendidikan maupun jumlah murid. Seiring dengan minat orang tua untuk menyekolahkan ke sekolah berbasis agama seperti di MI tersebut.

Namun sayang, kondisi melubernya murid sebagai peserta didik tidak dibarengi dengan jumlah ruang kelas di sekolah yang berdiri mulai tahun 1952 ini. Untuk tahun ajaran 2017/2018 ini saja jumlah murid mulai kelas 1-6 tercatat sebanyak 258 anak dengan 7 ruang kelas.

Padahal apabila dirinci total kebutuhan ruang kelas membutuhkan 9 lokal ruang mengingat kelas 1, 3 dan 6 terbagi 2 ruang kelas A dan B sedangkan kelas 2, 4 dan 5 hanya membutuhkan 1 ruang kelas. Rata-rata setiap ruang tersebut terisi 30 an anak padahal idealnya 25 anak agar proses KBM berjalan secara dinamis baik dari sisi peserta didik maupun guru.

“Dengan banyaknya murid yang ada di sekolah kami untuk sementara khususnya kelas 6 ditempatkan di gedung milik pondok pesantren yang berada disekitar sini. Meski demikian untuk memperlancar proses KBM kami bagi dua kelas terutama jumlah murid yang diatas 40 anak,” terang Sukron Fadly Kepala MI PSM Sulursewu, Sabtu (29/07).

Sukron berharap, kondisi sedemikian ini tentunya mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah mengingat MI PSM Sulursewu merupakan sekolah swasta dengan tenaga didik lebih dari 9 guru kelas. Ia pun menyayangkan selama ini perhatian pemerintah hanya tertuju ke sekolah negeri sedangkan sekolah swasta tidak jarang termarginalkan. Padahal selama ini MI PSM Sulursewu muridnya banyak berasal dari luar desa.

“Kebutuhan yang paling utama bagi sekolah kami tetap ruang kelas memang harus ditambah agar lebih ideal. Meskipun masih ada keterbatasanya sekolah kami secara akademis sering mencetak prestasi baik tingkat kecamatan maupun kabupaten. Apalagi sekarang ini MI menjadi referensi orang tua untuk menyekolahkan anak,” jelas Sukron Fadly.

Terpisah, kurangnya ruang kelas di MI PSM Sulursewu yang menjadi bagian sarana penting kegiatan belajar memang disorot wali murid. Seperti yang dikatakan Purwanto dia mengaku pesimis terhadap peran pemerintah daerah dalam hal ini Pemkab Ngawi untuk memberikan bantuan ruang kelas.

“Saya tidak yakin peran Pemkab Ngawi terhadap kepedulian pendidikan di wilayahnya. Jangankan ruang kelas, pada awal tahun ini saja proposal yang berisi permintaan bantuan alat kelengkapan sekolah yang dikirim MI Sulursewu ke Bupati Ngawi tidak digubris sama sekali tetapi berbalik langsung dengan meriahnya HUT Kabupaten Ngawi apakah kegiatan tersebut digelar gratis, saya tidak yakin untuk itu,” ungkap Purwanto. (dik)