Ribuan Nelayan Pantura Lamongan Akan Gulung Tikar, Ini Alasannya

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN: Ribuan nelayan yang tergabung dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Lamongan, Jawa Timur, menyatakan keberatan terhadap rencana Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk menghapus subsidi BBM jenis solar bagi nelayan skala kecil.

Hal tersebut disampaikan oleh Advokat HNSI Cabang Lamongan Wellem Mintarja, saat diwawancarai media, pada Sabtu (5/8/2017).

“Pernyataan kebijakan Menteri Susi yang akan mencabut subsidi BBM terhadap nelayan perlu dikaji ulang, hal itu pastinya akan merugikan petani,” kata Wellem.

Menurut Wellem, alasan Menteri Susi tidak rasional dan tidak tepat dengan menyatakan bahwa saat ini nelayan mampu membeli BBM non-subsidi. Bahkan dampak kebijakan susi akan membuat nelayan gulung tikar.

Baca:  Sepi Pembeli Pedagang Hewan Kurban Menjerit

“Rencana Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut merupakan bentuk langkah mundur bagi perwujudan kesejahteraan dan perlindungan konstitusional nelayan kecil yang berhak mendapatkan perlakuan khusus,” tegasnya.

Bahwasannya, Welem juga sudah menampung banyak kelompok nelayan yang menentang rencana pemerintah mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan. Sebab, mayoritas pengeluaran nelayan saat ini dihabiskan untuk BBM.

“Pastinya kami menolak kebijakkan susi menghapus subsidi solar untuk nelayan. Padahal, subsidi yang ada saja masih mengurangi pendapatan para nelayan,” paparnya.

Seperti diketahui, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengusulkan pencabutan subsidi solar untuk nelayan kecil. Susi beralasan bahwa selama ini, banyak nelayan kecil justru tidak mendapatkan solar subsidi.

Baca:  Warga Watualang Ngawi, Temukan Mayat Seorang Nenek Mengapung di Bengawan Solo

Bahkan, Bahan bakar yang sebagian harganya ditanggung pemerintah itu justru banyak dinikmati perusahaan.

Susi menilai industri tidak sepantasnya menikmati solar subsidi untuk nelayan. Sebab solar subsidi diberikan pemerintah untuk para nelayan kecil, bukan perusahaan yang memiliki kemampuan finansial. (Fer)