Bertahannya Tukang Panggul Perahu di Pasar Tradisional

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Seiring ditinggalkannya jalur transportasi air yang memanfaatkan aliran Bengawan Solo dan beralih ke transportasi darat sebagai jalur utama untuk perpindahan barang dagangan ke pasar tradisional, maka peran kuli panggul pun mulai berkurang penghasilannya.

Di antara pasar tradisional yang berada dibantaran Sungai Bengawan Solo itu antara lain, Pasar Kliwon yang masuk wilayah Desa Karangcangkring Dukun Gresik, Pasar Pon di Wilayah Desa Mertani Karanggeneng Lamongan, Pasar Legi berada di Desa Kaligerman Karanggeneng Lamongan serta masih banyak lagi yang lainnya.

Bongkar muat barang di pasar tradisional tersebut menggunakan cara tradisional yakni dilakukan oleh orang perorangan atau Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) dengan cara dipanggul. Dul Rokib (55) , salah satu kuli panggul di Pasar Pon yang merupakan salah satu pasar tradisional di Desa Mertani Kecamatan Karanggeneng Lamongan ini terlihat hilir mudik menurunkan berkarung-karung barang dan kotak dari perahu motor.

Baca:  Akibat Mati Listrik, Baznas dan LAZ Harfa Bantu Penumpang KRL

Keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya justru disikapi sukacita karena menandakan mereka akan mendapatkan uang bayaran memanggul. Seperti hari ini Jum’at Pon (11/8/2017) saat ditemui awak media diselah pekerjaan rutinnya.

Dul Rokib bercerita dia dibayar Rp 50 ribu per kotak dan Rp. 10 per glangsing (sak) barang. “Saya harus menerima kenyataan itu, kalau menolak rejeki saya diambil kawan-kawan lainnya,” ujar lelaki berkulit legam ini. Hasil tersebut dia bagi 2 dengan teman kerjanya. Satu pasaran (istilah untuk putaran  dalam lima hari) dia mendapatkan hasil bersih Rp. 200.000. Dalam 5 hari pasaran itu dia hanya bekerja 2 hari yaitu ketika Pasar Pon dan Pasar Kliwon saja sedangkan yang lain dia libur karena pasarnya jauh.

Baca:  Jambret Ponsel, Tiga ABG Gresik Ini Jadi Bulan-Bulanan Warga Lamongan

Lelaki 55 tahun ini juga menuturkan, sejak banyaknya para pedagang lebih memilih jalur darat sebagai jalur transportasinya penghasilannya menurun. Karena transportasi darat sangat menguntungkan para pedagang karena barang mereka bisa langsung ke tujuan, kalau pulang langsung sampai rumah sementara kalau lewat sungai harus menginap di perahu. Karena keesokan harinya harus berpindah ke pasar yang lain.

Dia sangat berharap, keberadaan pasar tradisional ini bisa dipertahankan jangan sampai kalah dengan pasar modern yang mulai tumbuh dimana-mana. Keberadaan pasar tradisional ini bisa menghidupi beberapa orang yang tidak memiliki keahlian khusus seperti dia yang hanya mengandalkan kekuatan otot semata. (Omdik)