Izin Perlintasan Dari PT KAI Belum Turun, Proyek Pengendalian Banjir BBWS Jalan Terus

pembangunan tanggul pengendali banjir di Johoclumprit, Sumobito Jombang

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Seperti diberitakan sebelumnya, proyek pengendalian banjir Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas yang berlokasi di Johoclumprit, Sumobito, Jombang, sempat terhenti, hal ini dikarenakan belum turunya izin melintas pada jalur rel kereta api dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 7 Madiun.

“Sekitar satu atau dua minggu kemarin mereka hanya berkunjung ke sini (Madiun). Namun untuk pemberitahuan izin secara resmi belum kami terima,” kata Supriyanto selaku Manager Humas PT KAI Daop 7 Madiun (17/07).

Meski demikian proyek, tersebut masih tetap berjalan karena waktu pengerjaan proyek tersebut sudah mendekati jatuh tempo. Proyek yang menelan anggaran 131 Milyard tersebut haruslah rampung pada 27 Agustus 2018.” Pengerjaan proyek terus berjalan mas, kita siasati dengan beberapa opsi, salah satunya menggunakan pontoon utuk alat berat, dan kita lewatkan dibawah jembatan rel kereta api,” kata Ahmad Shabri Prasodjo selaku Kepala Konsultan pengawas dari PT Indra Karya, Jumat 18 Agustus 2017.

Saat disinggung mengenai perubahan perencanaan terhadap pengerjaan proyek tanggul penahan banjir, yang ada di Desa Johoclumprit, tersebut pihaknya mengatakan, bahwa sesuai dengan perencanaan awal pekerjaan itu ada di sebelah kiri jembatan namun setelah ada banjir awal tahun kemarin, warga setempat mengajukan proposal ke pemerintah Pusat, untuk dibangun tanggul yang dekat pemukiman warga disebelah kanan jembatan kereta.

“ karena ada perubahan rencana inilah mengakibatkan kita harus melewati perlintasan kereta mas. Dengan adanya perubahan pelaksanaan pembangunan, kita menggeser projek pekerjaan di area kanan jembatan, yang dekat pemukiman warga,” paparnya.

Masih menurut penjelasan Prasodjo, meski ada perubahan perencanaan berdasarkan skala prioritas tingkat kerawanan banjir, dari sisi kiri ke sisi kanan, yang berubah hanya titik pelaksanaannya pembangunan proyek.” Dari segi anggaran semuanya sama tidak berubah mas, hanya titik pembangunannya yang kita geser berdasarkan tingkat urgensi,” ungkapnya.

Ketika ditanya ditanya terkait pembangunan yang sempat berhenti, pihaknya mengaku itu bukanlah suatu masalah yang sangat krusial, karena masih banyak opsi jika nanti memang ijin dari PT KAI tidak turun.” Kita sudah melakukan komunikasi ke pemerintah Daerah dan pemerintah Desa agar jalan setempat bisa dilewati alat berat nantinya,” tegas pria kelahiran Malang tersebut.

Lanjut Prasodjo,pembangunan proyek pengendali banjir ini sifatnya hanya sebagai penanganan bencana alam banjir dari pemerintah yang berada pada hilir sungai, dan bukanlah jaminan bahwa banjir tahun depan tidak melanda sejumlah daerah rawan banjir di Jombang, hal ini dikarenakan penanganan banjir haruslah disikapi secara holistic ( red : menyeluruh) khususnya perbaikan yang ada di hulu.

“ harus ada perbaikan ekosistem di Hutan yang ada diwilayah Wonosalam, karena bisa diketahui bahwa hujan gerimis di wilayah wonosalam bisa mengirimkan air yang volume cukup banyak ke sungai kita, ini diakibatkan adanya pembalakan liar di hutan-hutan kita,” bebernya.

Imbuh Prasodjo, ini semua menjadi tanggung jawab kita semua, termasuk perilaku manusi itu sendiri yang harus menjaga kelestarian alam, serta ekosistem hutan kita.(elo)