Menabung Rp 5 Ribu perhari, Tukang Becak di Jombang Naik Haji

Saat berbincang dengan istri sebelum berangkat
Saat berbincang dengan istri sebelum berangkat

KANALINDONESIA.COM : Walau berprofesi sebagai tukang becak tak menghalangi niatnya berusaha agar keinginannya untuk pergi ke rumah Allah bisa terlaksana. Selama manusia memiliki niat baik pasti akan dikabulkan, bahkan segala kemudahan akan diturunkan oleh Yang Maha Kuasa.

Seperti halnya Karto (67), kakek dengan dua cucu asal Dusun Klubuk, Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang ini memang hanyalah tukang becak dengan penghasilan rata – rata Rp 30 ribu per hari. Namun, luar biasa saat ini ia terdaftar sebagai calon jamaah haji (CJH) dan sudah melunasi BPIH tahap II yang akan berangkat ke Makkah pada bulan Agustus, Kamis (28/07/2016).

Meski hanya mengandalkan becak sebagai tumpuhan utama mencari rezeki yang perlu perjuangan ekstrakeras. Dengan niat yang tulus untuk beribadah, ia sanggup mengumpulkan uang puluhan juta rupiah.
” Pada awal – awal, memang sangat sulit mengumpulkan uang sambil membaginya untuk kebutuhan belanja keluarga. Bahkan, saya pernah tidak memberikan uang belanja kepada istri,’’ Tuturnya, sambil mengenang jerih payah hidupnya.

Ia melanjutkan, dari waktu ke waktu akhirnya terbiasa dengan menabung, meski awalnya hanya mampu nyelengi Rp 5 ribu per hari. Bahkan, dulu pernah hanya bisa menyisihkan Rp 1. 500 sehari. keberangkatan ini tak lepas dari izin Allah untuk saya berangkat ke tanah suci Makkah. Karena Sang Pengeran (Tuhan) mengizinkan, ya inilah karunia yang diberikan-Nya.

Mimpi untuk menunaikan rukun Islam yang kelima sudah menjadi impian bapak dua cucu ini. Sebelum menjadi tukang becak, ia juga pernah menjadi seorang tukang parkir di bekas lokalisasi di kampung tersebut. Dengan keinginan yang kuat dan yakin kelak impian memijakkan kaki di tanah suci Mekkah akan terkabul.

“Lembar demi lembar pecahan rupiah hasil bekerja tiap hari usai becak disisihkan. Saya kumpulkan di bawah kasur, kadang juga di bawah bantal. Kalau sudah terkumpul banyak, selanjutnya saya menabung di salah satu Bank di Jombang. Sebelum saya jadi tukang becak, di Dusun Klubuk merupakan tempat lokalisasi. Saya dan istri bekerja sebagai tukang parkir, dan dulu sering kena razia,” Urainya.

Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah ditutup. Akhirnya saya mencari rezeki dengan mengayuh becak, bertambahnya usia, yang tak memungkinkan dan tak cukup kuat untuk mengayuh becak.
“Jadi, becak dimodifikasi dengan menambah beberapa rangkaian mesin hingga menjadi becak motor. Setelah itu, saya agak terbantu. Menggunakan becak motor lebih mudah dan saya cukup kuat untuk bekerja,’’ Pungkasnya.

(an)