Eksekusi Mati Mery Utami Ditunda

istimewa
istimewa

KANALINDONESIA.COM : Satu terpidana kasus narkoba yang mengalami penundaan eksekusi mati adalah Merry Utami.

Mery sempat mengalami penolakan oleh warga daerah asal Mary di Sukoharjo, Jateng untuk pemakaman jenazahnya bilamana eksekusi mati terhadap dirinya jadi dilaksanakan, namun keluarganya yang berada di Magetan bersedia menerima dan bahkan warga desa juga menyatakan tidak keberatan.

Atas pnundaan eksekusi mati ini, pengacara Merry, Ricky Gunawan mengaku jika pihaknya telah mengajukan permohonan grasi kepada Presiden Jokowi, Selasa (26/7/2016) lalu.

“Kami mengajukan grasi sebagai upaya hukum terakhir dan itu harus dihormati dan Merry seharusnya tidak dieksekusi sebelum ada putusan grasi,” kata Ricky dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat.

Dijelaskanya,berdasarkan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 5 tahun 2010 tentang perubahan atas UU Nomor 22 tahun 2002 tentang grasi, Mahkamah Agung memiliki 30 hari dalam mengirimkan pertimbangan grasi secara tertulis kepada presiden.

“Jadi klien kami masih mempunyai kesempatan,” kata Ricky.
Menurutnya, Mary adalah merupakan korban dari sindikat narkoba. Ia juga mengaku jika hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan salinan putusan penolakan Peninjauan Kembali (PK) dari Mahkamah Agung (MA).

“Pada saat itu Merry diminta untuk membawa tas yang berisi narkoba oleh seorang pria yang awalnya membayari liburan ke Nepal. Itu semua hanyalah modus yang dilakukan oleh para sindikat narkoba yang menjebak Merry,” ucap Ricky.

Terkait dengan grasi yang diajukanya, Seskab Pramono Anung mengaku masih belum menerimanya. Namun dia membenarkan jika surat pengajuan grasi ditujukan kepada Presiden dan tembusan ke Sesneg dan Seskab.

“Sampai hari ini, sekarang belum ada. Atau mungkin lagi di staf, saya enggak tahu,” ungkap Pramono.