Menuju Asian Games 2018, INASGOC dan ABTI Berbenah dari Test Event Bola Tangan

KANALINDONESIA.COM, JAKARTA:Dengan diadakannya acara penutupan yang dihadiri oleh Ahmad Abu Al Lail, Eksekutif federasi bola tangan asia (AHF) dan Ketua Pelaksana Test Event Bola Tangan, Amarta Imran, test event bola tangan bertajuk kejuaraan Bola Tangan Asia Remaja Putri VII (Women Youth Handball Asian Championship) ini resmi berakhir, Senin (28/08). Test event bola tangan ini berlangsung pada 20-28 Agustus 2018 bertepat di GOR POPKI, Cibubur dengan diikuti oleh tujuh negara yakni Korea Selatan, Jepang, China, Hongkong, Uzbekistan, Kazakstan dan Indonesia sebagai tuan rumah.

“Secara keseluruhan test event bola tangan ini berjalan dengan lancar. Catatan-catatan mengenai perbaikan dan penambahan fasilitas untuk GOR POPKI, Cibubur ini juga sudah disampaikan kepada pihak INASGOC. Dan mereka menyambut baik itu semua,” ucap Amarta Imran.

Meskipun terdapat sedikit masalah teknis hari ini yakni matinya papan skor, tetapi tidak mengganggu jalannya pertandingan final. “Papan skor sempat mati, tapi kami sebagai panitia pelaksana sudah mengambil jalan keluar sehingga pertandingan dapat berjalan dengan lancar. Papan skor ini juga dapat menjadi masukan saat Asian Games 2018 nanti,” tambahnya.

Tidak hanya menyelenggarakan pertandingan, tetapi panitia pelaksana yakni ABTI juga sempat mengadakan kegiatan city tour yang mana tujuh negara peserta test event bola tangan ini melakukan kunjungan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (26/08).  Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menguatkan silahturahmi antar peserta dari masing-masing negara. Tak hanya itu, kegitan city tour tersebut juga memperkenalkan budaya Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018.

Disamping itu, setelah melewati serangkaian pertandingan, Korea Selatan keluar menjadi juara sekaligus mendapatkan medali emas. Di pertandingan terakhir Korea Selatan berhasil mengalahkan saingan utamanya Jepang dengan skor 34-20. Berdasarkan hasil pertandingan tersebut tim Jepang harus puas dengan medali perak dan medali perunggu untuk tim China.

Baca:  Menpora Ajak Para Santri Al Ittifaqiah Indralaya Ikut Gelorakan Asian Games 2018 di Palembang

Di pertandingan pertama dimenangkan oleh Uzbekistan dengan skor 62-12 atas Indonesia. Sedangkan di pertandingan kedua dimenangkan oleh Kazakstan dengan skor 40-8 atas Hongkong.

“Hasil pertandingan test event sesuai dengan target kami yaitu emas. Menuju Asian Games 2018, pastinya tim kami (Korsel) akan semakin giat berlatih. Target kami untuk Asian Games 2018 pastinya medali emas. Jika dideskripsikan dengan angka, 99% kami yakin akan mendapatkan medali emas,” ucap Manajer tim remaja Korsel, Yoon Jun Hyeon.

Setelah melakukan evaluasi dari segi venue, hal yang harus dipertahankan dan musti ditambahkan telah menjadi catatan tersendiri oleh INASGOC. Tak kecuali evaluasi atas penampilan tim Indonesia, khususnya di remaja putri, selama kejuaraan ini berlangsung yang masih tertinggal dari negara-negara peserta lainnya.

Olahraga bola tangan itu  memang tergolong baru di Indonesia. Tetapi ABTI (Asosiasi Bola Tangan Indonesia) hingga saat ini masih terus melakukan perbaikan-perbaikan di bidang prestasi. Permasalahan utama pada prestasi bola tangan Indonesia menurut Amarta Imran selaku Wakil Ketua I ABTI adalah belum adanya pembinaan atlet sejak usia dini pada olahraga bola tangan Indonesia.

“Khususnya untuk test event ini, atlet yang turun bukan binaan sejak dini. Yang terpenting mereka mempunyai skill olahraga yang baik dan pastinya menyukai dunia olahraga. Dan saat ini belum ada pelatihan lanjutan,” ucap Amarta.

Baca:  KRP Layangkan Nota Keberatan Atas Pembuatan dan Penggunaan Property Reyog Ponorogo di Perhelatan Asian Games 2018

Dalam olahraga bola tangan terdiri dari tiga kategori. Kategori pertama dikuasai oleh negara Asia Timur seperti Korea Selatan, Jepang, China. Kategori Kedua dikuasi oleh negara Eropa Timur dan kategori tiga seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Indonesia dan lain sebagainya.

“Indonesia masih termasuk dalam kategori ketiga. Menurut saya, nantinya ABTI harus melakukan pelatihan dan pencarian atlet sejak tahap awal dengan konsep training camp. Setelah itu binaan tersebut harus dilanjutkan di daerahnya masing-masing. Bola tangan merupakan olahraga tim sehingga diperlukan waktu bertahun-tahun untuk membuat suatu hubungan sehingga menjadi lebih kompak. Sebagai tuan rumah, pastinya Indonesia harus bergabung dalam olahraga multi-event ini. Untuk menghadapi satu tahun Asian Games 2018 strategi kami (ABTI) ialah akan mengajukan bantuan kepada federasi bola tangan Asia,”tambah Amarta.

Indonesia berencana melakukan pelatihan pelatih nasional beserta wasit di negara Asia lainnya seperti Korea Selatan. Selain itu juga akan mengadakan pertandingan persahabatan dengan salah satu negara Asia timur tersebut.

Wacana tim nasional akan memakai pelatih dari Asing, sepertinya hampir memasuki keputusan akhir. Menurut Wakil Ketua I PB ABTI, Amarta Imran kemungkinan tim nasional Indonesia akan bekerja sama dengan negara Korea Selatan karena mereka memang memiliki program tidak hanya dengan Indonesia tetapi dengan negara lainnya. “Kami (ABTI) sudah melakukan diskusi dengan Korsel dan sepertinya kami akan bekerjasama dengan Korsel. Tapi lebih lanjutnya masih akan kami diskusikan,” ucap Amarta.

Strategi menuju prestasi olahraga bola tangan di Asian Games nanti juga disambut baik Ketua Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC), Erick Thohir sekaligus Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI). “Guna terciptanya pemerataan perkembangan olahraga khususnya di Asia, kami siap membantu untuk menjajaki peluang kerjasama dengan federasi olahraga negara Asia lain dengan ABTI,”jelas Erick Thohir.

Baca:  Menpora Menerima Purna Paskibraka KBRI Kuala Lumpur Malaysia 2016

Selain mengevaluasi dari segi prestasi, berdasarkan test event ini juga dapat mengevaluasi kesiapan panitia lokal dalam hal ini ABTI untuk menyelenggarakan bola tangan pada Asian Games 2018.  Namun, karena anggota ABTI yang terlibat dalam organisasi itu hanya beberapa orang jadi perlu adanya tenaga tambahan. Salah satunya dengan menambahkan volunteer. Panitia pelaksana mengharuskan volunteer mahir bahasa Asing terutama bahasa Inggris dan juga bahasa-bahasa negara peserta seperti Korea, Jepang, Rusia dan lain-lain. Tidak hanya mahir berbahasa asing tetapi para volunteer ini juga sudah harus familiar dengan olahraga bola tangan itu sendiri.

“Untuk menangani lapangan dan teknis, kami akan memakai volunteer dari ABTI karena mereka harus mempunyai pengetahuan tentang handball. Namun untuk LO dan penerjemah akan diberikan oleh INASGOC. Khususnya LO harus mengusai bahasa Inggris dan juga kami mencari yang dapat berbahasa asing. Karena seperti delegasi dari Korea Selatan, Jepang tidak mahir dalam bahasa Inggris jadi kami memerlukan LO yang dapat berbahasa Asing tersebut. Di test event ini, kami mempunyai LO yang dapat berbahasa Korea dan juga Jepang. Mungkin nantinya kami akan mencari LO yang dapat berbahasa Rusia karena seperti Kazakstan tidak terlalu mahir bahasa Inggris dan menggunakan bahasa Rusia,” jelas Amarta.  (gardo)