Parade Ambeng Warnai Sedekah Bumi Di Desa Mungli

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Masyarakat Desa Mungli Kecamatan Kalitengah Lamongan sebagian besar masih peduli pada pelaksanaan upacara-upacara adat, mereka masih meyakini akan manfaat dari pelaksanaan upacara adat yang sudah terselenggara sejak zaman dahulu, sehingga mereka masih melestarikan upacara-upacara adat. Salah satu upacara adat yang masih dilestarikan adalah upacara adat Sedekah Bumi.

Dalam perayaan Sedekah bumi setiap desa mempunyai sebuah tempat atau leluhur yang dianggap bertuah yang menjaga desanya. Warga di Desa Mungli menyebutnya dengan Kyai Bingseng atau Kyai Buskhori yang diyakini penduduk setempat sebagai cikal bakal pendiri Desa Mungli. Tradisi ini sangat kental dengan nilai religius karena doa-doa yang dipanjatkan sesuai dengan ajaran agama Islam.

Dalam acara sedekah bumi biasanya warga Desa Mungli membagi sedekah dengan membawa ambeng (kumpulan makanan yang ditempatkan dalam sebuah tampah) dengan harapan ambeng tersebut akan diberikan kepada siapapun yang datang terutama dari luar desa yang mereka sebut dengan istilah “tamu”. Tidak memandang yang datang itu pejabat, masyarakat biasapun disebut tamu. Sehingga muncul istilah “anjeng”, sebutan ini diberikan kepada orang luar desa yang datang guna memintah sedekah (ambeng) dalam acara tersebut.

Sedekah bumi bagi masyakat Desa Mungli sebagai simbol perwujudan rasa syukur kepada Allah yang memberikan kepada mereka panen yang melimpah atau rizki yang lain.

Oleh karena Sampai saat ini warga Desa Mungli Kalitengah Lamongan mempertahankan sedekah bumi menjadi suatu tradisi yang tak tergantikan masanya.

Sutrisno, Kepala Desa Mungli mengatakan bahwa tradisi membawa ambeng merupakan rangkaian dalam kegiatan sedekah bumi di Desa Mungli sebagai wujud sedekahnya kepada orang lain terutama orang yang datang ke tempat acara.

“mereka yang datang ke sini tidak hanya warga sekitar akan tetapi warga Kecamatan Solokuro pun banyak terlihat setiap tahun pada acara ini”, tambah Sutrisno.

Sementara itu, Yasmu (65) warga Solokuro yang sempat ditemui awak media ini membenarkan bahwa kehadirannya bersama beberapa warga Solokuro mencari sedekah berupa makanan yang dibagikan kepada warga yang datang.

“Saya setiap tahun datang, mulai kapan saya sendiri lupa sebab sudah sangat lama sebelum saya menikah”, imbuhnya sambil tertawa. (Omdik).