Hamili Familinya, Pria Ngawi Menangis Saat Diamankan Polisi

STR menangis saat digelandang ke Mapolsek Paron
KANALINDONESIA.COM : Polisi gelandang STR (33) warga Dusun Kedungdowo, Desa Kedungputri, Kecamatan Paron, Ngawi, Jawa Timur, lantaran diduga telah melakukan pencabulan terhadap anak dibawah umur hingga hamil, Senin(01/08/2016).
Pelaku terlihat menangis minta ampun saat petugas membawanya ke Polsek Paron.

Dari informasinya, pria ini diduga kuat menyetubuhi sebut saja bunga (15) anak perempuan dibawah umur yang tidak lain familinya sendiri asal Dusun Babadan Wetan, Desa Babadan, Kecamatan Paron.

Kapolsek Paron AKP Wayan Murtika membenarkan anggotanya berhasil mengamankan pelaku setelah adanya laporan warga tentang persetubuhan yang terjadi sekitar Mei 2016 lalu.

Ia pun tidak menyangkal jika korbanya yang tercatat sebagai siswi kelas satu SMK Kesehatan di wilayah Madiun tersebut kondisinya kini hamil mendasar hasil USG dokter kandungan.

Baca:  Dua perampok Dijalur Pantura Lamongan Dibekuk Polisi

“Korbanya berinisial TFA memang hamil sesuai pemeriksaan USG yang dilakukan dokter. Dan kasus ini diketahui setelah orang tua korban melaporkan ke pihak kami,” jelas AKP Wayan Murtika.

Awal diketahuinya kehamilan korban bermula dari ibu korban melihat ada yang tidak beres atas perkembangan kondisi tubuh putrinya. Lantas berusaha mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya terhadap TFA dengan memeriksakan ke dokter. Kaget bukan kepalang, untuk sementara pengakuan korban pernah disetubuhi oleh STR yang masih punya hubungan family dengan dirinya.

Kejadian kala itu bermula saat korban dijemput STR dengan alasan untuk melihat hiburan di pabrik tebu PG Soedhono di Kecamatan Geneng, Ngawi. Ketika acara selesai TFA ini bukanya diantar pulang kerumahnya malah diajak menginap dirumah pelaku dan terjadilah tindakan persetubuhan.

Baca:  Komunitas MAXXIO Macan Wirotaman Bentuk Pengurus

Masih kata Kapolsek Paron, pelaku saat ini masih dilakukan pemeriksaan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Ngawi untuk mengorek keterangan baik si pelaku itu sendiri maupun korban. Untuk penjeratan pidana tandas AKP Wayan Murtika, pelaku bakal dijerat dengan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Namun dari berbagai sumber juga dijelaskan, dugaan persetubuhan terhadap TFA dilakukan lebih dari satu orang tetapi kebenaran itu masih ditelusuri. Pungkas AKP Wayan Murtika, pihaknya bekerjasama dengan UPPA Polres Ngawi terus mengembangkan kasus tindak persetubuhan yang terjadi diwilayah hukumnya dengan meminta keterangan baik dari korban maupun saksi-saksi lain yang dibutuhkan.

Baca:  Polisi Gagalkan Pengiriman Paket Ganja 50 Kg di Jombang

“Kami belum bisa menjawab apakah dilakukan oleh satu orang atau lebih. Yang jelas kami masih melakukan pemeriksaan secara intensif untuk menuntaskan kasus persetubuhan ini,” pungkas Kapolsek Paron AKP Wayan Murtika. (dik)