Petani Takerharjo Solokuro Mengolah Lahan Tadah Hujan

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Mengelola lahan tadah hujan di kawasan yang gersang untuk pengembangan tanaman jagung tentu memerlukan siasat tersendiri agar berhasil. Salah satunya dengan memilih cara tanam yang tepat, yang memiliki daya adaptasi kuat pada kondisi lingkungan yang terbatas pengairannya tersebut.

Seperti yang ada di Desa Takerharjo Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan ini, hampir seluruh wilayah di Desa tersebut sudah mulai kering lantaran sudah hampir 3 bulan hujan hampir tidak pernah turun. Dampaknya, para petani yang memiliki lahan tadah hujan tidak bisa memanfaatkan lahannya untuk pertanian.

“Sudah tidak pernah turun hujan. Tiga bulan sejak bulan Juli”, terang Suraji, petani di Desa Takerharjo, Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan.

Kondisi seperti itu, kata Suraji, memang sangat berpengaruh bagi petani dalam bercocok tanam. Pasalnya, lahan yang mereka tanami merupakan lahan tadah hujan. Sehingga, pola tanam mereka memang sangat tergantung pada air hujan.

“Musim hujan sangat ditunggu di sini, karena kami sangat bergantung pada air hujan untuk mengairi tanaman.Hanya pada saat musim hujan saja kami bisa bertani. Kalau kemarau lahan kami kosong dan petani di sini lebih memilih untuk merawat hewan ternak atau kerja serabutan lain,” ujar Suraji yang selalu bertanam jagung dan cabe di lahan tersebut.

Namun para petani di Desa Takerharjo Solokuro punya cara tersendiri pada musim kemarau untuk mempersiapkan lahannya ketika datang hujan turun nanti dengan sistem koak. Sistem koak sendiri adalah cara yang cukup mudah dan sederhana yaitu dengan cara membuat congkelan-congkelan pada permukaan tanah yang membentuk lubang-lubang kecil.

Lubang-lubang tersebut lalu diisi dengan rabuk dari kotoran ayam untuk penyubur tanah. Lahan yang sudah dikoaki tersebut dibiarkan sampai datangnya hujan. Apabila hujan turun maka para petani segera menaruh bibit jagung pada koakan-koakan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Bercocok tanam jagung di lahan tadah hujan tentu memerlukan siasat tersendiri agar berhasil. Dengan hanya mengandalkan curahan air hujan untuk kebutuhan pengairan, diperlukan pengelolaan tanah yang tepat agar bisa mengoptimalkan sumber daya yang terbatas itu.

Senada dengan Suraji, Rasmaji yang juga mempersiapkan lahannya mengatakan, hampir masyarakat yang memiliki lahan tadah hujan menggunakan cara seperti ini dan dilakukan secara rutin tiap tahun. Apalagi di Wilayah Desa Takerharjo banyak kandang ayam sehingga para petani memanfaatkan kotoran ayam untuk pupuk organik guna meningkatkan kesuburan tanah. (Omdik)