Penyebrangan Sungai Bengawan Solo di Poncol Sugihwaras Tetap Menjadi Pilihan Warga

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Keberadaan tambangan atau sarana penyebrangan Bengawan Solo jarang diperhatikan, sampai-sampai diperbincangkan pun tidak pernah sama sekali. Tambangan Bengawan Solo akan menjadi buah bibir apabila terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, misalkan perahu terbalik dan lain sebagainya.

Alat transportasi penyeberangan Sungai Bengawan Solo yang ada di Kabupaten Lamongan masih menjadi pilihan warga setempat. Selain efesiensi waktu juga biaya penyeberangannya lebih murah. Salah satunya tambangan Bengawan Solo yang berada di Desa Sugihwaras Kecamatan Kalitengah tempatnya di Dusun Poncol. Tambangan tersebut menghubungkan Poncol yang masuk wilayah Kabupaten Lamongan dan Langkir yang wasuk wilayah Kabupaten Gresik.

Perahu kayu dengan panjang belasan meter itu terlihat merapat ke tepi Bengawan Solo. Beberapa penumpang pun turun, ada yang berjalan, ada pula yang sambil menuntun sepeda. Ada penumpang yang turun, ada pula yang kemudian naik. Beberapa pun tampak menuntun sepedanya naik ke atas perahu berlantai anyaman bambu tersebut. Tak lama kemudian, perahu itu kembali berlayar menuju ke sisi lain sungai.

Aktivitas itu berlangsung berulang kali, karena memang perahu yang dikemudikan Agus Wiyatno (30) itu merupakan modal penyeberangan alternatif yang telah bertahun-tahun dimanfaatkan warga.

Setiap hari terutama pada jam berangkat maupun pulang ke Pasar, perahu ini selalu ramai di padati ratusan warga, sebagian besar merupakan para pedagang. “Karena akses terdekat yang menghubungkan antara Pasar Lembung (Tunjungmekar) dengan beberapa Pasar di Kecamatan Dukun dan Kecamatan Panceng Gresik harus melewati jalur ini,” ujar salah seorang kemudi perahu tambang, Agus Wiyatno, Selasa (26/9/2017).

Selain lebih dekat, dengan perahu penyeberangan itu warga bisa merasakan sensasi berbeda dengan pemandangan yang terhampar di bantaran sungai. Untuk dapat menyeberang, warga cukup membayar Rp 2.000 untuk sekali menyeberang.

“Biasanya warga juga ada yang membawa motor untuk diseberangkan, itu tarifnya Rp 5.000,” kata Agus.

Sehari-hari, Agus mengoperasikan perahunya mulai pagi hari setelah sholat Shubuh ketika orang berangkat ke Pasar serta saat anak-anak sekolah, hingga sore hari sekitar pukul 18.00 sore saat para pekerja kembali pulang.

“Ya kalau malam ada yang pesen mau diantarkan, ya saya antarakan. Kalau sungai banjir pun saya berani mengantarkan. Tinggal penumpangnya berani apa tidak,” canda Agus.

“Selain lewat perahu tambang ini, bisa lewat jembatan Karanggeneng atau jembatan Dukun, namun harus memutar sekitar sepuluh kilometer,” ungkap salah satu penyebrang perahu yang berhasil ditemui awak media ini.

Masih ada sebagian masyarakat yang mengandalkan jalur sungai Bengawan Solo. Selama ini, penyeberangan sungai sepenuhnya dikelola masyarakat. Sistem keamanan belum terpantau maksimal. Peran Pemerintah diharapkan mampu memberikan bantuan keamanan dan pemantauan diantaranya mengupayakan pelampung di sejumlah titik penyeberangan. Terutama di lokasi yang dinilai berbahaya (Omdik)