Astaga, Seorang Guru Ngaji Cabuli Muridnya

sejumlah barang bukti yang diamankan Polisi dari korban guru ngaji cabul

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Mis (45) seorang guru ngaji, asal Dusun Karangri, Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben, Jombang Jawa Timur, harus pasrah saat diglandang aparat Kepolisian dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Jombang, hal ini dikarenakan tersangka Misbachudin nekad melakukan tindakan cabul terhadap beberapa muridnya di sebuah Taman Pendidikan Alquran (TPQ).

Ada sekitar 4 anak yang dicabuli oleh tersangka, dan ada dua orang tua yang melapor ke polisi. Berdasarkan laporan tersebut, pihak Kepolisian kemudian melakukan penyelidikan. Setelah data cukup dengan memriksa korban dan saksi-saksi, polisi kemudian membekuk pelaku di rumahnya.

Tersangka melakukan tindakan cabul terhadap santrinya, dalam jeda waktu berbeda yakni, mulai Mei hingga Agustus 2017. “Tindakan cabul yang dilakukan tersangka, yakni dengan cara meraba-raba dada korban, hingga memasukkan jari tersangka ke alat vital korban,” kata AKP Wahyu Norman Hidayat, selaku Kasat Reskrim Polres Jombang, 28 September 2017.

Lanjut Norman, empat korban itu masing-masing yakni, CNF (10), NAI (11), ARL (10), dan PV (11). Seluruh korban merupakan warga dusun setempat, yang masih tetangga pelaku. “Korbannya ada 10 anak. Namun yang melaporkan 4 anak,” ujarnya.

Norman menjelaskan, modus operandi yang dilakukan oleh tersangka dalam menjalankan aksinya yakni, pelaku meminta muridnya untuk maju menghafalkan surat-surat pendek di ruangan khusus. Setelah itu, pelaku langsung menggerayangi tubuh korbannya.

Mencuatnya perkara ini berawal dari salah satu korban yang tidak mau mengaji, lantaran trauma dengan tindakan cabul yang dilakukan oleh tersangka. Setelah mendengar pengakuan anaknya orang tua korban selanjutnya bergegas melaporkan kejadian tersebut ke pihak Kepolisian.

Setelah mendapatkan laporan, pihak unit PPA Satreskrim Polres Jombang langsung menindaklanjuti laporan tersebut, dengan menangkap pelaku, beserta sejumlah barang bukti, diantaranya, baju batik, baju takwa, kerudung, serta rok milik korban.

“Pelaku dijerat pasal 82 UU No 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman 5 sampai 15 tahun penjara,” tukas Norman.(elo)