Pelajar SMP Jadi Korban Pengroyokan, Komisi D Minta Disdik dan Polisi Turun Tangan

MRM korban pengroyokan kakak kelasnya sendiri saat didampingi ibunya

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : MRM (13), seorang pelajar kelas VII SMPN 2 Ngoro asal Dusun Sukotirto, Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang Jawa Timur, harus menderita luka-luka pada bagian kepala dan mengalami keretakan pada lengan tangannya, setelah dikeroyok oleh 7 anak yang tak lain adalah kakak kelasnya sendiri.

Namun dari 7 pelaku pengroyokan tersebut hanya 3 anak yang dikenali identitasnya oleh korban, ketiga tersangka tersebut yakni, yakni FR (14), AG (14), serta AY (14). “Ada sekitar tujuh anak, tapi saya tidak kenal yang lainnya mas,” katanya.

Peristiwa pengroyokan yang dialami oleh MRM ini membuat anggota komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), meminta pada pihak Dinas Pendidikan (Disdik) dan aparat penegak hukum untuk menindak pelaku pengroyokan, pasalnya Jombang merupakan Kabupaten yang menyandang gelar Kota Layak Anak (KLA) namun kekerasan terhadap anak masih kerap saja terjadi.

“ Kami prihatin dan meminta segera ada penanganan serius oleh pihak yang berwenang termasuk dinas terkait (red : dinas pendidikan) khususnya ada kepedulian unit sekolah tersebut untuk segera menindaklanjuti kasus yang terjadi,” ungkap Syarif Hidayatullah, salah satu anggota komisi D dari partai Demokrat, Jumat 13 Oktober 2017.

Masih menurut Syarif, pihaknya dari komisi D DPRD Jombang, meminta agar aparat penegak hukum (red: Polisi), untuk melakukan penyelidikan, jika memang unsure pidananya ada.” Kalau memang itu sudah masuk ranah kriminal jelas harus diselesaikan,” ujar pria yang akrab disapa dengan sapaan Gus Sentot tersebut.

Lanjut Gus Sentot, proses hukum harus tetap dijalankan, namun kesemuanya harus sesuai dengan segala ketentuan yang berlaku. “ tetap harus mengacu pada pembinaan anak sesuai aturan yang ada karena pelaku dan korban masih dibawah umur,” terangnya.

Imbuh Gus Sentot, pihaknya berharap agar Disdik lebih lagi serius mengawasi dan memberikan pemahaman terhadap sekolah-sekolah yang ada, sehingga kekerasan terhadap anak tidak lagi muncul di Kota Layak Anak.

“Diharapkan dengan adanya penindakan yang sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku kita bisa menanggulangi dan mengantisipasi supaya kejadian serupa tidak terulang lagi,” pungkasnya.

Sementara itu, Samutri (56) yang merupakan ibu dari MRM, mengaku bahwa akibat dari penroyokan tersebut, kini anaknya mengalami trauma mendalam, dan lebih memilih untuk keluar dari sekolahnya, karena takut kejadian serupa terulang kembali. “ Anaknya minta keluar dari SMP Negeri 2 Ngoro, kasian dia sudah trauma,” tukasnya.

Saat ini MRM yang menjadi korban pengroyokan oleh 7 anak, yang tak lain adalah kakak kelasnya sendiri, sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Pelengkap Jombang. Dan kejadian yang dialami oleh MRM juga sempat menyita perhatian dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jombang.

Nur Kholis selaku Kepala Sekolah SMPN 2 Ngoro, saat dikonfirmasi melalui sambungan telephone seluler, yang terdengar hanya nada sambungnya, namun tak kunjung diangkat. Ketika dikonfirmasi melalui Short Message Service (SMS) juga enggan untuk membalas.(elo)