Didampingi LPA, Orang Tua Korban Pengeroyokan Pelajar SMPN 2 Ngoro Jombang Lapor Polisi

orang tua MRM yang didampingi salah satu anggota LPA saat laporkan peristiwa pengroyokan ke Polres Jombang

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Didampingi oleh Beny Hendro Yulianto SH, yang merupakan anggota Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jombang, Samutri (57) yang merupakan orang tua MRM (13) siswa korban pengeroyokan di SMP Negeri 2 Ngoro, akhirnya melaporkan beberapa pelaku ke Polres Jombang, pada hari Jumat 13 Oktober 2017.

Laporan keluarga korban terhadap para pelaku pengroyokan MRM diterima oleh Aipda Agus Abdul Ghofur, hal ini dibuktikan dengan diterbitkannya Surat Laporan Polisi Nomor : LPB/274/X/2017/JATIM/RES JBG hari Jumat tanggal 13 Oktober 2017, sekitar pukul 15.40 WIB. Selanjutnya, pelapor diarahkan ke Unit PPA Polres Jombang untuk dilakukan BAP.

“Setelah mempertimbangkan dengan matang, maka pihak keluarga sepakat membawa kasus ini ke ranah hukum. Karena selama ini kita belum melihat ada niat baik dari para pelaku maupun dari pihak sekolah, atas peristiwa yang dialami anak saya mas,” kata Samutri, Jumat 13 Oktober 2017.

Masih menurut penjelasan Samutri, berbekal foto rotgen dan semua barang bukti dari hasil pemeriksaan dokter, pihaknya akan menyerahkan ke tim penyidik untuk keperluan polisi.“ tadi saya diperiksa tim penyidik, kita juga sudah menyiapkan sejumlah barang bukti yang dimintai polisi,” ungkapnya.

Beny Hendro Yulianto, SH yang merupakan pendamping dari pihak keluarga MRM, menuturkan bahwa semua prosesnya kita serahkan pada pihak yang berwajib. “ setelah kita lapor dan terbit surat LP. Orang tua korban juga sudah di BAP, karena saat ini korban masih belum bisa di BAP karena masih mendapat perawatan di Rumah Sakit, insyaallah besok giliran korban yang di BAP,” ujarnya.

Lanjut Beny, pihaknya menyayangkan sikap pihak sekolah yang seolah-olah tidak ada perhatian dan juga penanganan mengenai persoalan pengroyokan yang dialami MRM, apalagi keluarga para pelaku pengroyokan juga tidak menunjukkan adanya niat baik, sehingga pihak keluarga harus menempuh jalur hukum.

“ seharusnya pihak sekolah bisa melakukan mediasi atau istilahnya RJ (red : Restorative Justice), antara pihak keluarga korban dan pihak keluarga pelaku, mengingat antara pelaku dan korban masih dibawah umur,” tegasnya.

Imbuh Beny, namun sesuai dengan amanah Undan-Undang perlindungan Anak, nanti pihak kepolisian masih bisa melakukan upaya tersebut (red : RJ), karena langkah tersebut tetap harus diutamakan.” Ya hasilnya nanti tergantung disepakati apa tidak oleh pihak-pihak terkait, termasuk harus mendapat persetujuan dari Kapolres,” tandasnya.

Sementara itu, AKP Wahyu Norman Hidayat selaku Kasat Reskrim Polres Jombang, mengaku sudah menerima laporan keluarga korban. Selanjutnya, kini dilakukan BAP kepada orang tua dan kerabat korban.

Pada tahap selanjutnya, pihaknya akan memeriksa saksi-saksi dan para pelaku semua. Bahkan, Kepolisian berencana cek lokasi kejadian dan memeriksa guru beserta kepala sekolah.

“Saat ini kita periksa saksi-saksi dulu termasuk bukti foto rotgen, dan untuk korban akan kita tanyai lagi kepada pihak dokter. Jika memungkinkan, maka kita akan lakukan BAP pada korban,” pungkas Norman.

Kasus pengroyokan pelajar di SMPN 2 Ngoro Jombang, yang tengah menjadi perhatian sejumlah kalangan, termasuk Wakil Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab yang sempat menjenguk korban di rumahnya, dan anggota komisi D DPRD Jombang yang meminta agar Disdik dan Polisi turun tangan, namun hingga kini Nur Kholis selaku Kepala Sekolah SMPN 2 Ngoro, saat dikonfirmasi melalui sambungan telephone seluler, yang terdengar hanya nada sambungnya, dan tak kunjung diangkat. Ketika dikonfirmasi melalui Short Message Service (SMS) juga enggan untuk membalas.(elo)