Pelajar SMPN 2 Ngoro Jadi Korban Pengroyokan, Komisi D Sidak Sekolah

MRM korban pengroyokan kakak kelasnya sendiri saat didampingi ibunya

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : MRM (13), seorang pelajar kelas VII SMPN 2 Ngoro asal Dusun Sukotirto, Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang Jawa Timur, harus menderita luka-luka pada bagian kepala dan mengalami keretakan pada lengan tangannya, setelah dikeroyok oleh 7 anak yang tak lain adalah kakak kelasnya sendiri.

Meski kini perkara pengroyokan bocah malang tersebut ditangani Polisi, Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Jombang akan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke sekolah tersebut.

“ kita akan lakukan sidak mas, ke sekolah untuk mencari keterangan dari pihak-pihak terkait,” kata Syarif Hidayatulloh salah satu anggota Komisi D DPRD Jombang, Senin 16 Oktober 2017.

Masih menurut penjelasan Syarif, pihak komisi D sudah menjadwalkan agenda sidak ke SMPN 2 Ngoro, mengingat kejadian pengroyokan tersebut sudah menyita perhatian banyak pihak.” Insyaallah setelah kegiatan kunker, kita akan sidak ke sekolah korban mas,” ujar pria yang akrab disapa Gus Sentot tersebut saat ditemui di kantor DPC Partai Demokrat Jombang.

Sementara itu Nur Kholis selaku Kepala sekolah SMPN 2 Ngoro, saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler mengenai adanya rencana sidak Komisi D, pihaknya merasa senang dan menerima secara terbuka pihak Komisi D.

“ saya merasa senang kalau ada yang datang ke sekolah, biar tahu peristiwa yang sebenarnya. Kemarin Bu Catur (red: istri Bupati Jombang) juga ke sana,” ungkap Nur Kholis, Senin 16 Oktober 2017.

Saat disinggung tentang rencana korban yang akan keluar dari sekolah karena trauma, dan takut akan terjadi pengroyokan kembali yang dilakukan oleh para pelaku, pihaknya menuturkan bahwa  kabar itu belum jelas.” Kalau masih andai-andai kan belum pasti. Yang jelas hari ini sudah ada pertemuan untuk mediasi masalah tersebut, termasuk pihak wali korban, wali pelaku dan pendamping, termasuk guru BP,” tegasnya.

Lanjut Nur Kholis, pihaknya juga membantah jika ada pembiaran dari pihak sekolah, karena sedari awal pihak sekolah sudah berupaya untuk menangani masalah tersebut. “ sedari awal kita mediasi para pihak-pihak, dan termasuk korban kita juga perhatikan. Saya juga sempat dipanggil pihak Disdik untuk dimintai keterangan,” paparnya.

Imbuh Nur Kholis, bahkan pihak sekolah besok mengagendakan acara mediasi antara wali korban dan pelaku, mengingat antara korban dan pelaku masih di bawah umur. “ ada trauma dari kedua belah pihak, termasuk para pelaku. Bahkan ada salah satu pelaku yang sempat kabur dari rumah karena takut, mengingat permasalahan penroyokan ini sudah dibawa ke jalur hukum,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, MRM (13), seorang pelajar asal Dusun Sukotirto, Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang Jawa Timur. Pelajar kelas VII SMPN 2 Ngoro tersebut menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh kakak kelasnya.

Akibat peristiwa ini, tulang pergelangan tangan kanan bocah mungil tersebut mengalami retak, namun yang lebih parahnya lagi hinnga kini korban tak mau berangkat kesekolah karena masih mengalami trauma.

”Anak saya sudah satu minggu tidak bisa ke sekolah, kata dokter tulang tangannya ada yang retak,” kata Samutri (56), ibu bocah yang kini hanya bisa bersedih meratapi nasib anak bungsunya tersebut, Kamis 12 Oktober 2017.

MRM yang waktu itu masih sempat mengikuti kegiatan sekolah, harus pulang karena tak tahan menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, MRM memilih untuk ijin pulang, dan dirinya diantar tukang kebun sekolah pulang kerumahnya. Sesampainya di rumah, korban menceritakan kejadian pengeroyokan tersebut kepada keluarga. Selanjutnya orang tuanya mengantar MRM berobat ke puskesmas.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak petugas Puskesmas, diketahui hasilnya bahwa, selain hampir sekujur kepalanya timbul benjolan serta pinggangnya yang lecet. Ternyata MRM juga mengalami keretakan tulang pada bagian lengannya. Sungguh ironis mengingat Kabupaten Jombang adalah Kota Layak Anak, namun kekerasan terhadap anak masih saja kerap terjadi.(elo)