Pengusaha Salon Merasa Menjadi Korban Asuransi Prudential

KANALINDONESIA.COM, PONOROGO: Seorang wanita keturunan, LL(56) pemilik salon yang ada di Jalan Diponegoro Ponorogo, dijemput paksa dan harus rela mendekam di ruang tahanan Lembaga Pemsyarakatan, Ponorogo, Rabu(26/03/2014).

Kasus yang di tangani oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur tersebut kini
dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Ponorogo atas pertimbangan tempat
kejadian perkara berada di Ponorogo.

“Kita tidak melakukan penyelidikan dan tidak pula membuat berkas, kita
hanya menerima limpahan saja karena TKP nya di Ponorogo,”terang Irawan Jati Kusumo, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ponorogo.

Soal penjemputan LL, menurut Irawan juga bukan Kejaksaan Ponorogo yang melakukan, melainkan Polda Jatim.

Pertimbangannya, ancaman yang dikenakan kepada tersangka 5 tahun dan dikhawatirkan tersangka bisa menghilangkan barang bukti atau
mempengaruhi saksi lainnya.

“Dia ditahan sampai 20 hari kedepan. Pasal yang dikenakan adalah pasal 263 ayat 1 tentang membuat surat palsu, ayat 2 tentang menggunakan surat palsu serta pasal 264 yang berisi tentang pemalsuan khusus surat tertentu. Semua itu masih kita dalami,” tegas Irawan.

Sementara itu, Wasiati (60th) kakak tersangka, kepada media mengaku bingung dengan hukum yang tidak ada azas keadilan ini. LL adiknya merupakan nasabah dari asuransi Prudential yang masuk bukan karena inisitif pribadi tapi karena bujuk rayu dari Teguh Widodo, agen Prudential yang menawari hingga 7 kali lebih datang kerumahnya.

Karena gak enak hati sudah berkali – kali datang dengan segala bujuk
rayu maka akhirnya adik saya memasukkan anaknya yang bernama NW(16) menjadi nasabah asuransi Prudential pada Maret 2006.

“Untuk bisa masuk nasabah tersebut yang melakukan Check kesehatan adalah dokternya prudential, terus laboratoriumnya juga milik prudential, treatment juga didampingi agen prodential, kok sekarang kita dituduh melakukan pemalsuan,”jelasnya.

Menurut LL, NW(16) anaknya, ketika masuk nasabah prudential dalam
keadaan sehat, setelah premi untuk satu tahun dibayar ke Prudential
sebesar Rp. 60 juta. LL bersama keluarganya liburan ke Jakarta sambil
menunggu rehab rumahnya selesai dilakukan. Namun, ketika di Jakarta NW ini mengeluh sakit kepala dan ternyata bukan sakit biasa hingga sampai sekian lama dan berobat dengan biaya besar tidak tertolong lagi nyawanya.

“Adik saya ini sudah kehilangan anaknya karena meninggal, malah dituduh macam-macam. Bukanya dapat klaim asuransi malah dipenjara. Dimana keadilan kita,”ucap Wasiati, kakak LL dengan penuh amarah.

Wasiati meminta kepada penegak hukum, untuk menegakan hukum
seadil-adilnya dan membebaskan adiknya karena tidak bersalah. Menurutnya adiknya, hanyalah korban modus penipuan yang berkedok
asuransi yang tidak mau membayar klaimnya.(KI-01)