Kasus Prodential, Keterangan Saksi Mementahkan Tuduhan Terhadap Terdakwa

Saksi memberikan keterangan di persidangan

KANALINDONESIA.COM PONOROGO: Kasus asuransi prudential yang memidanakan Lily, warga Jalan Diponegoro, Ponorogo, dengan tuduhan telah melakukan pemalsuan dokumen, telah memasuki masa persidangan.

Dalam sidang keempat ini, pihak majelis hakim mendatangkan Tulus Widodo, agen prudential yang telah melakukan perekrutan, sehingga Nica wijaya, anak lily menjadi tertanggung.

Tulus yang dihadirkan dalam persidangan sebagai saksi ini mendapatkan cercaan pertanyaan baik dari penasehat hukum terdakwa, Hartono, maupun dari Irawan Jati Kusumo, jaksa penuntut umum (JPU).

Menurut pengakuan Tulus, saat pengisian surat pengajuan asuransi jiwa (SPAJ) terkait kesehatan tertanggung sebagai persyaratan, dirinya bertanya langsung pada tertanggung yaitu Nica Wijaya, yang juga didampingi oleh Lely, ibunya, yang kini mendekam dalam penjara.

“Ya saat itu saya menanyakan langsung kepada tertanggung, yang kemudian semua jawaban itu saya tanyakan kembali kepada ibunya untuk meyakinkanya,”jelas Tulus saat menjawab pertanyaan yang diajukan JPU.

Tak hanya itu, dalam persidangan dengan Joko Ariyanto sebagai ketua majelis hakim juga terungkap, bahwa sebelumnya Tulus telah menunjuk dua orang dokter untuk memeriksa kesehatan Nica. Dimana hasil pemeriksaan kedua dokter menyatakan bahwa tertanggung kondisi kesehatanya sangat baik.

Bahkan dalam persidangan sebelumnya, kedua dokter tunjukan Tulus tersebut juga telah didatangkan untuk dimintai keterangan terkait kesehatan Nica. Dari kedua dokter diperoleh keterangan bahwa kesehatan Nica dalam keadaan baik.

“Saat datang ke tempat praktek saya, dan kemudian saya lakukan pemeriksaan, kondisi kesehatan fisik Nica dalam keadaan baik, tidak menunjukan kalau dia menderita penyakit,”ucap dr Suparto salah satu dokter tunjukan Tulus, usai sidang.

Selain itu, sebelum adanya persetujuan hingga terbitnya polis, tertanggung (Nica) harus melalui beberapa rangkaian tes kesehatan, yang daiantaranya general chek up di laboratorium Prodia yang ada di Madiun, dimana saat itu, Tulus juga mendampinginya, dan tes kesehatan treatmil.

Saat JPU menanyakan hasil dari chek up yang dilakukan di laboratorium Prodia, dirinya mengaku tidak tahu, karena menurutnya, kewajibanya hanya mengantarkan tertanggung, dan hasilnya oleh prodia langsung dikirim kekantor Prudential yang ada di Jakarta.

“Saya hanya mengantarkan saja, terkait hasilnya saya tidak tahu, karena langsung dikirim ke Jakarta dan saya memang tidak diberi tahu,”ucap Tulus, menjawab pertanyaan JPU.

Dari semua persyaratan yang dikirimkan Tulus, semua telah memenuhi syarat, sehingga terbitlah polis, namun ketika tertanggung meninggal dan nasabah akan mencairkan klaimnya justru yang terjadi diluar dugaan, pihak asuransi tidak mau mencairkanya, malah menuduh nasabah telah memalsukan dokumen, dan nasabah harus mendekam di hotel prodeo.

Sementara itu Hartono, penasehat hukum terdakwa, saat dikonfirmasi usai sidang mengatakan, bahwasanya klienya tidak terbukti melakukan pemalsuan dokumen atau penipuan, sehingga pasal 381 yang isinya barang siapa memberikan pernyataan menyesatkan penanggung dianggap merugikan penanggung, hal ini tidak diperbolehkan dalam hal asuransi, yang akan diancam dengan 1,5 tahun penjara, sehingga tidak bisa dituntutkan pada Lely.

Menurutnya, hasil sidang yang digelar pada Senin (26/05/2014) menyatakan bahwa jaksa tidak bisa membuktikan dakwaanya, justru yang kelihatan adalah pemalsuan yang ditunjukan oleh prudential.

“Dalam sidang kemarin jaksa tidak bisa membuktikan dakwaanya, justru yang kelihatan adalah pemalsuan yang ditunjukan pihak prudential, sehingga pasal 381 tidak bisa dijeratkan pada klien kami,”jelasnya.

Ditambahkanya, menurutnya seharusnya SPAJ ditolak, dan agen yang melakukan prospek harusnya dipecat, tapi sebaliknya justru malah naik jabatan, menjadi manajer.

Terkait dengan itu, Irawan Jati Kusumo, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidag tersebut mengatakan, sidang yang kemarin acaranya melakukan pemeriksaan saksi Tulus Widodo yang sekarang berkantor di Madiun.

Kepada saksi Irawan menanyakan, dalam pengisian SPAJ, agen mengajukan pertanyaan pada tertanggung yang dikuatkan  pada ibunya.

“Kita menanyakan seputar pengisian SPAJ dan yang menentukan besarnya nilai klaim kepada saksi, Ide Rp 5 miliar ide dari siapa, dan dijawab saksi dia lupa, dan itu sah-sah saja sebagai agen,”ucapnya.

Dikatakanya dua dokter, yakni dr Agus Suyanto dan dr Suparto menyatakan bahwa tertanggung secara fisik dari luar kesehatanya baik, dan tidak ditemukan penyakit yang membahayakan, hal ini juga dikuatkan oleh Tulus yang melakukan pengamatan dari luar, jika tertanggung dalam berjalan dan melihat dalam keadaan biasa, tidak ada yang aneh.

Sementara pemeriksaan dalam dilakukan di laboraturium Prodia, Madiun yang hasilnya dirahasiakan dan langsung dikirim ke Jakarta.

“Persaratan dari prudential harus dilampiri keterangan dua dokter umum yang bekerja di instansi pemerintah, dari hasil pemeriksaan luar diketahui tidak ditemui adanya  penyakit yang membahayakan,”pungkasnya.(KI-01)