BIG Apresiasi 100 Inovator Muda Indonesia

KANALINDONESIA.COM, JAKARTA: Badan Informasi Geospasial (BIG) memberikan penghargaan kepada 100 orang inovator muda Indonesia dalam pemanfaatan informasi geospasial.

Apresiasi ini dilakukan berkaitan dengan hari ulang tahun BIG ke-48 tahun sekaligus memperingati Hari Informasi Geospasial yang jatuh tiap tanggal 17 Oktober.

Kepala BIG Hasanuddin Z Abidin mengatakan peringatan ulang tahun kali ini bertajuk Kemandirian Geospasial untuk Kedaulatan Bangsa dan Negara dipilih karena relevan dengan program Nawacita dari Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) terutama dalam penggunaan peta dirasakan masih kurang. Ini terlihat sebagian besar aplikasi masih menggunakan peta dari luar negeri, seperti Google Map. Padahal Indonesia sudah mempunyai peta yang dihasilkan BIG.

“Peran BIG disini mempersiapkan data dan informasinya yang bisa dimanfaatkan oleh publik. Nanti publik berkreasi macam-macam untuk kemaslahatan bangsa dan negara sebagaimana yang dilakukan adik-adik inovator muda ini,” kata Hasanuddin kepada Kanalindonesia.com di Jakarta, Selasa (17/10/2017).

Sebanyak 100 inovator muda ini, kata Hasanuddin, datang dengan latar pendidikan berbeda mulai dari SMP hingga mahasiswa sarjana strata 2 (S2) dari seluruh daerah di Indonesia. Mereka ini terbagi dalam 25 tim dimana tiap tim memiliki 4 orang.

Kemudian diseleksi menjadi 10 tim dan nantinya akan dipilih 3 tim sebagai juara satu, dua dan tiga.

“25 tim yang.masuk ini dipilih dari 270 tim. Kemudian masuk finalis 10 tim dan akhirnya dipilih juara satu, dua dan tiga dengan hadiah total sebesar Rp 30juta,” jelas Hasanuddin.

Sementara itu, salah satu tim yang masuk finalis adalah empat mahasiswa Universitas Gajah Mada membuat aplikasi penyaluran zakat kepada rakyat miskin dengan pemanfaatan informasi geospasial.

Mahasiswa UGM terdiri dari Giant Nugroho, Achmad Rofi’i, Miftakhul Munir dan Muhammad Yusuf Mansyur ini ingin sistem penyaluran zakat tepat sasaran kepada yang membutuhkan dan kepada yang menyumbangkan zakat akan mendapat laporan zakat yabg telah disalurkan.

“Ide kita berawal dari penyaluran zakat yang tidak tepat sasaran dan tidak transparan, padahal uang zakat yang dikumpulkan  banyak dan lembaga zakat di Indonesia juga banyak. Semoga sistem penyaluran zakat melalui pemanfaatan informasi geospasial ini akan menjadikan penyaluran zakat transparan, akuntabel dan dipercaya,” tutur Giant Nugroho diiyakan rekan-rekannya di UGM Yogyakarta. @Fatih