DPC Projo Jombang, PKL Maknai Kemerdekaan RI ke 71

Ketua DPC Projo Jombang, Joko Fatah Rochim
KANALINDONESIA.COM : Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Projo Jombang angkat bicara soal makna kemerdekaan 71 tahun Indonesia. Ketua DPC Projo Joko Fatah Rachim menilai meski Indonesia sudah 71 tahun merdeka namun hingga kini kehidupan rakyat kecil khususnya Pedagang Kaki Lima (PKL) di jombang tidak kunjung membaik, Senin (08/08/2016).

Ketua DPC Projo Jombang, Joko Fatah Rochim mengatakan ekonomi rakyat harus diberi kesempatan, tak boleh dimarginalkan demi untuk segelintir elit dan investasi pemodal. Nasib PKL yang terus menjadi bulan -bulanan penguasa dan tak diberi ruang dalam mereka mencari rezeki jelas mengebiri kemerdekaannya. Pasalnya, kemerdekaan, kesejahteraan ekonomi belum dirasakan oleh semua warga negara Indonesia (WNI), khususnya PKL yang berada di Kabupaten Jombang.

Baca:  Menpora Lantik Tiga Pejabat Baru di Lingkungan Kesekretariatan

Dalam pengelolaannya, PKL harus dirangkul dan di ajak berdialog saat terjadi permasalahan, ditata dan diberdayakan, bukan digusur dan dimarginalkan. Menurutnya, PKL penyedia lapangan kerja terbesar, termasuk juga menjadi pilar perekonomian, bagian keindahan kota dan wisata, serta bisa majukan ekonomi, jika dalam penataannya bagus, ” Ujarnya, kepada Lensa Indonesia.

Ia menambahkan memaknai kemerdekaan sebagai wujud puncak perjuangan dari seluruh pejuangan panjang, dalam artian bahwa kita bebas dari seluruh belenggu ketertindasan. Seharusnya bebas berkarya dan memiliki peran aktif dalam ekonomi kerakyatan, sebagai aktualisasi diri sebagai bangsa Indonesia di era globasasi ini.

Masalah kesejahteraan menjadi makna kemerdekaan yang sesungguhnya ingin dicapai sejumlah kalangan masyarakat, terutama rakyat kelas menengah ke bawah termasuk pedagang kecil. Seyogyanya dalam hal ini pemerintah kabupaten jombang lebih peduli terhadap mereka yang termarjinalkan, stop penggusuran PKL di Jombang dan beri ruang dialog yang konstruktif untuk kesejahteraan bersama, ini juga menjadi bagian dari Nawa Cita” Pungkasnya.

Baca:  Demo HMI

Berikut sembilan agenda prioritas (Nawa Cita) meliputi:

1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. Melalui pelaksanaan politik luar negeri bebas-aktif.

2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.

3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.

5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui program Indonesia Pintar dengan wajib belajar 12 tahun bebas pungutan. Dan program Indonesia Sehat untuk peningkatan layanan kesehatan masyarakat. Serta Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera dengan mendorong program kepemilikan tanah seluas sembilan juta hektar.

Baca:  Pengadaan Meja Pasar Peterongan Jombang, Diduga Ada Rekayasa dan Tekanan

6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.

7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi dan domestik.

8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalu penataan kembali kurikulum pendidikan nasional.

9. Memperteguh Keb-Bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui penguatan kebhinekaan dan menciptakan ruang dialog antar warga.

an