Nelayan: 450 Kapal Cantrang di Lamongan Mangkrak Akibat Kebijakan Susi Pudjiastuti

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti membuat ratusan kapal cantrang di Pelabuhan Kecamatan Brongdong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, tidak lagi beroperasi. Sebab penggunaan alat tangkap cantrang sudah dilarang oleh pemerintah.

Sekitar 700 kapal cantrang yang ada di Pelabuhan Perikanan Brondong, 450 diantaranya sudah mangkrak. Hal ini disebabkan adanya aturan pelarangan penggunaan alat tangkap jenis cantrang.

Seperti yang dikatakan Ketua Aliansi Nelayan Indonesia (ANI) Kecamatan Brondong, Agus Mulyono, hampir seluruh kapal milik nelayan menggunakan cantrang sebagai alat tangkap.

“Terus terang, pendapatan nelayan saat ini menurun sangat drastis. Kira kira hampir 50-60 persennya,” kata Agus kepada awak media, Jumat (10/11/2016).

Ratusan kapal cantrang di Pelabuhan Perikanan Brondong, Lamongan tak bisa melaut akibat aturan pelarangan penggunaan alat tangkap ikan jenis cantrang. Dari sebanyak 700 kapal cantrang milik nelayan, 450 di antaranya mangkrak.

Ketua Aliansi Nelayan Indonesia (ANI) Lamongan, Agus Mulyono mengatakan, hampir seluruh kapal tersebut menggunakan cantrang sebagai alat tangkapnya. Kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti soal cantrang membuat perekonomian nelayan Lamongan anjlok dan menurun drastis.

“Saat ini nelayan bekerja jadi buruh untuk bertahan hidup demi mendapatkan uang untuk menyambung hidup,” uangkapnya.

Kapal nelayan yang saat ini mangkrak rata rata berukuran di bawah 30 GT. Meskipun nelayan sudah memiliki kelengkapan melaut seperti Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP), Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI), dan Surat Layak Operasi (SLO), namun nelayan tetap takut melaut karena larangan kapal cantrang oleh Susi Pudjiastuti.

Sejauh ini menurut nelayan, cantrang tidak merusak habitat lingkungan laut. Padahal alat cantrang merupakan kebudayaan nelayan Indonesia. Dengan menggunakan alat cantrang pendapatan ikan nelayan lebih besar di bandingkan alat tangkap lainnya.

“Nelayan selalu menjaga kelestarian laut agar ikan bisa terus bertambah, sehingga merelokasi lokasi karang. Lalu jangan memutus rantai pendapatan nelayan. Sekarang kami nelayan sengsara,” pungkas Agus. (Fer)