CEMANI, “Si Hitam” dari Temanggung: Pelestarian Plasma Nutfah Ayam Cemani

KANALINDONESIA.COM, TEMANGGUNG: Ayam Cemani merupakan ayam lokal asli Indonesia yang asal-muasal sejarahnya berasal dari kisah Ki Ageng Makukuhan di Pulau Jawa khususnya di Karesidenan Kedu. Kata “Cemani” berasal dari bahasa jawa kuno yang artinya “hitam legam”, warna hitam ini menyelimuti seluruh tubuh ayam lokal ini mulai dari jengger, pial, paruh, bola mata, rongga mulut, lidah, bulu, sayap, ketiak, lubang dubur, kaki, hingga cakar.

Ayam Cemani banyak dibudidayakan di kawasan Kedu Temanggung Jawa Tengah. Ayam Jenis ini banyak dicari oleh masyarakat sebagai ayam peliharaan (hias), hingga untuk sesaji dalam acara adat.  Peminat ayam Cemani tidak hanya dari dalam negeri, namun juga banyak dari luar negeri seperti Thailand, Vietnam, Myanmar, India, Bangladesh, hingga Amerika Serikat. Bahkan di negeri paman sam tersebut, ayam Cemani memiliki julukan khusus yaitu “Lamborghini Chicken” karena memiliki harga yang sangat mahal (dilansir dari Phoenix New Times). Harga ayam Cemani dapat dikatakan cukup mahal yaitu hingga puluhan juta per ekor.

Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa ayam Cemani ini adalah ayam klenik (ayam ritual) sehingga tidak banyak yang berani mengembangkan ayam jenis ini. Namun faktanya, di daerah Temanggung terdapat beberapa peternak yang khusus membudidayakan ayam Cemani. Salah satu peternak ayam Cemani yang sukses di Kecamatan kedu adalah Bapak Nur Faizin sudah memulai mengembangkan dan membudidayakan ayam Cemani (ayam Kedu) sejak tahun 1990-an hingga sekarang memiliki ratusan ekor ayam Kedu (khususnya Cemani) dan ayam lokal lainnya.

Potensi Budidaya dan Pelestarian Plasma Nutfah

Mengingat harga jual yang cukup mahal, potensi untuk pengembangan ayam Cemani dinilai sangat menjanjikan. Konsep pemeliharaan ayam Cemani tidak berbeda dengan pemeliharaan ayam kampung lainnya, namun demikian ayam Cemani tidak bisa dipemihara dengan seadanya atau ala kadarnya. Untuk mendapatkan hasil unggul, pemelihara harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang pakan, kandang, bibitan, hingga pemijahan ayam Cemani.

Berdasarkan studi kasus di peternakan milik bapak Nur Faizin di Desa Kedu Rt.5 Rw.3 Kec. Kedu Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, ayam Cemani merupakan ayam yang mudah terserah penyakit seperti Snot (coryza) hingga Tetelo di musim-musim tertentu. Sistem perawatan kandang dan pola pemeliharaan yang tepat menjadi kunci untuk hasil yang maksimal. Ayam Cemani juga merupakan ayam yang rawan kematian pada fase grower, sehingga diperlukan seleksi khusus dalam pemberian pakan dan perkandangan.

Menurut bapak Nur Faizin ayam Cemani merupakan ayam yang banyak dicari oleh masyarakat baik dalam maupun luar negeri. Beliau menambahkan bahwa ayam Cemani miliknya dapat laku terjual puluhan ekor perminggu di berbagai umur. Peminat ayam Cemani sendir terdiri dari berbagai kalangan mulai dari masyarakat biasa (untuk ritual maupun untuk pengembangan), hingga para akademisi (untuk tujuan riset). Mengingat banyaknya peminat ayam unik ini, potensi budidaya ayam Cemani sangatlah menjanjikan.

Ayam Cemani merupakan salah satu jenis ayam Kedu. Selain ayam Cemani, ayam Kedu juga memiliki jenis lain yaitu ayam Kedu hitam, ayam Kedu putih, Ayam Kedu Merah/Lurik. Keempat jenis ayam Kedu tersebut memiliki keunikan masing-masing. Namun demikian kebeadaannya sekarang perlu diperhatikan karena ayam-ayam tersebut merupakan aset yang sangat berharga bagi Indonesia khususnya di wilayah Kedu.

Upaya untuk pelestarian plasma nutfah ayam Kedu (khususnya ayam Cemani) oleh bapak Nur Faizin sudah banyak dilakukan seperti melakukan pembibitan, menikuti pelatihan hingga melakukan kaderisasi peternak yang diawali dengan mengkader ketiga putranya. Hingga saat ini tercatat di peternakan milikinya sudah melakukan pembibitan dan pelestarian beberapa ayam lokal maupun interlokal seperti ayam Batik, ayam Ayunai, ayam Kalkun, ayam Pelung, ayam Ketawa dll. Selain pembibitan ayam asli, di peternakan ini juga melakukan penyilangan antar ayam sehingga menghasilkan ayam campuran yang unik dan unggul. Upaya tersebut tentunya harus didukung oleh pemerintah pusat maupun daerah mengingat ayam Kedu khusunya merupakan ayam lokal Indonesia merupakan ayam asli Indonesia.

Penulis : Achmad Rofii, S. Pd

Mahasiswa Magister Biologi, Universitas Diponegoro Semarang