Seloto, Benteng Terakhir di Sumbawa, Saksi Perjuangan “Lalu Unru” Menentang Belanda

KANALINDONESIA.COM, SUMBAWA: Desa Seloto terletak sekitar 10 Km dari pusat Kota Taliwang sebagai Ibu Kota Wilayah Kesultanan Sumbawa Kedatuan Taliwang sebelum jatuh di tangan pemerintahan Kolonial Belanda 1930. Di Seloto, sebuah perkampungan masyarakat yang awalnya dihuni oleh keturunan bangsawan Kedatuan Taliwang dan juga para pejuang Kemutar Telu yang enggan berkompromi dengan penjajah Belanda.

Seloto adalah benteng alam tempat persembunyian para pejuang tanah “Kemutar Telu.” Dari sanalah para pejuang merancang perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Kelompok masyarakat ini terbentuk di bagian timur Lebo atau danau besar yang menghubungkan antara wilayah Taliwang, Meraran, Air Suning, Seran, Seteluk dan Seloto. Diperkirakan orang-orang “Kemutar Telu” mulai mendiami wilayah Seloto sejak 10 generasi yang lalu yang tidak terpisahkan dari perangkat adat Kedatuan Taliwang.

Desa terpencil dan tersembunyi itu, dikelilingi oleh gugusan pegunungan sehingga sulit sekali penjajah Belanda dan antek-antek Belanda untuk mengesan keberadaan dan aktivitas masyarakat di situ. Seloto termasuk daerah yang subur, suhu udaranya yang sejuk, dari tiap gunung terpancar mata air yang mengalir bak sungai kecil yang jernih, di dalamnya banyak ikan, kepiting dan udang.

Sungai kecil yang oleh masyarakat setempat disebut “erat” bermuara ke sungai utama yang melewati pinggir desa Seloto. Sebuah desa yang asri, dengan suasana kehidupan masyarakat yang solid memegang teguh adat istiadatdan syariat Islam. Pada umumnya, masyarakat Seloto bekerja sebagai petani.