dr Bagoes, Buronan P2SEM Sempat Menjadi Pengajar dan Dokter di Malaysia

dr Bagoes Soetjipto Soelyodikoesmo.

KANALINDONESIA.COM, SURABAYA: Dokter Bagoes Soedjito Suryo Soelyodikusumo, tersangka dalam kasus korupsi Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Tahun Anggaran 2008, dengan nilai kerugian yang sekitar Rp 2 Miliar, tiba di kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim) Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Rabu (29/11/2017) petang.

Pantauan Kanalindonesia.com, sekitar pukul 18.00 WIB, dr Bagoes tiba dengan pengawalan ketat dari petugas kejaksaan itu langsung digiring masuk ke dalam kantor Corp Adiyaksa tersebut.

Saat ditanya awak media terkait keterlibatan pihak lain pada kasus yang menjeratnya hingga saat buron 6 tahun. dr Bagoes menjawab hanya pasrah. “Saya serahkan semua kepada jaksanya,” kata dr Bagoes yang mengenakan kaos warna merah, Rabu (29/11/2017).

Setelah menjalani pemeriksaan di ruang pidana khusus yang berada di lantai 3 Kejati Jatim kurang lebih setengah jam, dr Bagoes dilanjutkan untuk menjalani penahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Porong, Sidoarjo.

“Dokter Bagoes akan ditahan di Lapas Porong,” terang Kasi Penkum Kejati Jatim Richard Marpaung.

dr Bagoes adalah staf ahli DPRD Provinsi Jawa Timur yang termasuk dalam daftar terpidana empat perkara pidana di Jawa Timur.

Perkara yang melibatkan Bagoes tidak hanya disidang di Pengadilan Negeri Surabaya, tetapi di beberapa daerah di Jatim. Bagoes divonis 7 tahun penjara dari PN Sidoarjo, lalu 7,5 tahun penjara dari Pengadilan Tipikor Surabaya dan 7 tahun dari PN Ponorogo. Total hukuman Dr Bagoes mencapai 21,5 tahun. Terakhir pada 2011, dia divonis nihil oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Majelis hakim yang diketuai Gusrizal kala itu menilai, hukuman yang sudah diterima dr Bagoes dari tiga persidangan sebelumnya melebihi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Meski begitu, pengadilan mengharuskan dr Bagoes membayar denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp 4,021 miliar. Menariknya, vonis 21,5 tahun itu diputuskan tanpa kehadiran dr Bagoes alias in absentia. Hingga akhirnya yang bersangkutan buron.

Selama menjadi buron di Johor Baru, Malaysia, dia bekerja sebagai pengajar dan dokter. Bagoes sudah menjadi buronan Kejaksaan Agung RI sejak tahun 2011. Dia terbukti merugikan negara hingga Rp 2 miliar. “Saya mengajar di beberapa universitas di Malaysia,” kata Bagoes.

Bukan hanya sebagai pengajar di berbagai universitas di Malaysia, ternyata Bagoes juga bekerja di sejumlah rumah sakit milik pemerintah Malaysia selama dia menjadi buronan kejaksaan.

“Saya bertugas juga sebagai dokter di sejumlah rumah sakit pemerintah Malaysia,” ungkap Bagoes.

Dokter Bagoes sebelumnya ditangkap Tim dari Kejaksaan Agung bersama Polri, Interpol, KJRI Johor dan Polisi Diraja Malaysia dengan menggunakan paspor palsu.ady