Anak Buruh Migran di Lamongan Ikuti Lomba Melukis Peringati Hari Buruh Migran Internasional

ADU KREATIF: anak-anak yang orang tuanya bekerja di luar negeri di Wilayah Kecamatan Solokuro mengikuti lomba mewarnai, di Balai Desa Payaman Kecamatan Solokuro dalam rangka peringati Hari Buruh Migran Internasional. Foto: Omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Keberadaan Buruh Migran Indonesia (BMI) merupakan satu kenyataan yang tidak dapat dipisahkan dari perempuan Indonesia. Angan-angan mendapat gaji besar dengan bekerja di luar negeri merupakan magnet yang tak akan ada habisnya menarik jutaan perempuan Indonesia. Walaupun pemberangkatan ke luar negeri juga tidak mudah, hal tersebut tidak menyurutkan semangat perempuan Indonesia. Akan tetapi salah satu permasalahan seputar BMI yang juga signifikan justru muncul pasca mereka kembali ke tanah air.

Salah satu Desa yang ditetapkan sebagai desa kantong TKI adalah Desa Payaman Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Sebagai desa yang menjadi kantong tenaga kerja Indonesia (TKI) yang juga dikenal dengan sebutan buruh migrant, Desa Payaman juga harus kreatif menyikapi dampak dari banyak penduduknya yang meninggalkan desa untuk mengadu nasib di luar negeri, diantaranya adalah masalah perhatian terhadap anak-anak.

Baca:  DPRD Jatim Minta Harus Ada Pendampingan, Agar Penggunaan Dana Desa Tidak Melanggar Hukum

Kantun Urip, SE. Pejabat Kepala Desa Payaman ketika ditemui kanalindonesia.com, Senin (18/12/2017) mengatakan Desa Payaman merupakan desa yang mayoritas masyarakatnya menjadi TKI, bekerja di luar negeri terutama Malaysia dan Hongkong. Banyak anak-anak yang berada di rumah tinggal bersama kakek dan neneknya atau bersama keluarga yang lain. Ini yang menjadi perhatian pemerintah lewat program desmigratif.

“Menyayangi anak tidak hanya dari aspek ekonomi, aspek emosional, atau perhatian orang tua dalam tumbuh kembang anak juga sangat penting, karena disaat anak anak akan bercerita pada orang tuanya jika orang tuanya tidak ada maka anak tersebut akhirnya tidak memiliki tempat untuk mengadu,” terangnya.

Istilah anak yang kurang perhatian dari kelurganya adalah broken home, ditakutkan, karena diirnya tidak mendapatkan kenyamana dirumah, dan tanpa diawasai oleh orang tuanya, sehingga si anak tersebut mencari kenyamanan diluar yang beresiko terbawa pergaulan bebas.

Baca:  Lebih Ketat, Hari Kedua Penyekatan di Simpang Empat Bypass Krian, Total Empat Orang Positif

“Mendaptkan perhatian dari orang tua adalah hak anak, jika orang tua tidak memberikan perhatian pada anaknya, secara tidak langsung dirinya tidak bisa memenuhi hak anaknya untuk mendapatkan kasih sayang darinya,” bebernya.

Dalam momentum peringatan hari buruh migran internasional yang jatuh pada tanggal 18 Desembe ini, Petugas Desmigratif bekerjasama dengan Pemerintah Desa Payaman mengadakan kegiatan mengadakan lomba mewarnai yang diikuti oleh 150 anak dari Desa Payaman dan sekitarnya. Bertempat di Balai Desa Payaman , lomba itu berjalan begitu meriah. Dari 4 tingakatan yaitu SPS, PAUD, TK A dan TK B, yang pada akhirnya akan dilihat 3 terbaik dari masing-masing tingakatan. Peserta terbaik mendapatkan piala dan sertifikat dari panitia. Petugas desmigraif juga melakukan kerjasama dengan guru-guru, Pemerintah desa dalam melakukan kegiatan ini

Baca:  Tiga Direksi Ajukan Mosi Tidak Percaya Pada Direktur Utama LIB

Sementara itu, Faidatul Azimah petugas desmigratif mengatakan kalau program Desmigratif merupakan upaya terobosan Kementrian Tenaga Kerja bekerjasama dengan berbagai Kementerian/Lembaga dan swasta untuk memberdayakan, meningkatkan pelayanan serta memberi perlindungan bagi calon TKI/TKI di desa yang menjadi kantong-kantong TKI diantaranya Desa Payaman dan sekitarnya.

Dia mengatakan, ada empat pilar utama yang diusung oleh Program Desmigratif, yaitu membentuk pusat layanan migrasi, menumbuh kembangkan usaha-usaha produktif TKI dan keluarganya, memfasilitasi pembentukan Rumah Belajar Desmigratif, serta memfasilitasi pembentukan dan mengembangkan Koperasi/Lembaga Keuangan. (Omdik)