Besi Jatuh dari Apartemen Hundred Residence Nyaris Renggut Nyawa Wanita ini

KANALINDONESIA.COM, Surabaya Proyek pembangunan Apartemen Hundred Residence milik PT Rodeco Indonesia yang dikerjakan PT Mitra Konstruksi di Jalan Raya Gubeng 102-106 Surabaya, dianggap telah merusak sebuah rumah milik Yenni, warga Jalan Sumatra 121 Surabaya.

Besi ukuran 5 cm × 2 meter dari proyek itu jatuh ke sebuah bangunan kantor milik Yenny melalui plafon hingga merusak meja kerja dengan kaca yang pecah dan beberapa dinding tembok yang hancur karena pentalan besi tersebut.

Diceritakan Yenni, peristiwa jatuhnya besi itu terjadi sekira pukul 08.15 WIB (tadi pagi). “Untungnya saya baru saja meninggalkan meja kerja itu, kalau tidak nggak tau apa yang terjadi pada saya,” ungkap Yenni pada sejumlah awak media, Selasa (2/1/2018).

Usai peristiwa tersebut, pihak PT Mitra Konstruksi selaku perusahaan yang membangun Apartemen Hundred Residence belum menunjukkan itikad baik untuk memberi ganti rugi atas kerusakan rumahnya. “Hanya minta maaf saja, tapi belum ada rasa tanggung jawabnya,” ujar Yenni.

Sementara Alexander Arif, SH, CN selaku kuasa hukum Yenny mengatakan, sejak pertama pembangunan Apartemen Hundred Residence itu telah banyak melakukan pelanggaran, di antaranya berakhirnya jam kerja pengerjaan pembangunan yang semestinya dimulai 08.00 hingga 18.00. “Tapi mereka kerja 24 jam,” kata Alexander.

Permasalahan itu akhirnya diadukan ke Walikota Surabaya. Hingga akhirnya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Surabaya memberikan surat peringatan kepada PT Rodeco Indonesia selaku penggagas pembangunan PT Aparetemen Hundred Residence. “Mereka tetap mokong dan mengabaikan surat teguran itu,” terang Alexander.

Sementara itu Humas PT Mitra Konstruksi, Wahyu Sabhara saat dikonfirmasi mengakui adanya kelalaian dari tenaga kerjanya. “Besi itu awalnya untuk naruh triplek, kebetulan belum diikat, tapi ketika mau diikat tiba-tiba besi itu jatuh dari lantai 6 dan mengenai rumah warga,” terangnya saat dikonfirmasi.

Wahyu pun mengaku akan melakukan perbaikan bangunan rumah milik Yenni. “Hari ini juga kami perbaiki, dan sekarang saya mau siapkan materialnya,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Wahyu juga berjanji untuk menghentikan sementara kegiatan pembangunannya. “Sementara kita hentikan, sampai pengamanan yang kita buat betul-betul aman,” pungkasnya.

Dikonfirmasi adanya pelanggaran perjanjian jam pengerjaan pembangunan dibantah Wahyu. “Kami tidak pernah kerja 24 jam. Paling lambat jam 8 sudah kami hentikan, hanya pengerjaan struktural saja kami kerjakan sampai jam 10,” terang Wahyu.

Sementara itu DLH Pemkot Surabaya langsung bersikap cepat atas aduan Yenni yang menjadi korban terdampak pembangunan Apartemen Hundred Residence.

Saat di lokasi kejadian, empat orang perwakilan dari DLH Pemkot Surabaya langsung mengabadikan beberapa foto rusaknya bangunan rumah milik Yenni. “Segera kami panggil owner dan pengelolanya,” ujar Staf DLH Pemkot Surabaya, Teguh Sumardijono saat dikonfirmasi usai meninjau lokasi kejadian.

Teguh hanya bisa bersyukur, karena peristiwa tersebut tidak sampai ada korban jiwa. “Untungnya tidak ada korban dalam peristiwa ini,” terangnya.

Diakui Teguh, pihaknya telah memberikan batasan jam kerja pada pelaksaan proyek pembangunan Apartemen Hundred Residence tersebut. “Kami juga sudah kirimkan surat peringatan ketika ada pengaduan,” sambungnya.

Namun, ternyata ada komunikasi yang salah diartikan dalam surat peringatan pada owner Apartemen Hundred Residence, yakni PT Rodeco Indonesia. Dalam surat peringatan itu, DLH meminta agar setiap pengerjaan di atas batas akhir jam 18.00 harus melakukan koordinasi dengan warga terdampak pembangunan. “Koordinasi itu bukan dalam bentuk surat saja tapi harus mendatangi warga terdampak untuk melakukan komunikasi akan kegiatannya,” urai Teguh.

Saat dilakukan mediasi, DLH Pemkot Surabaya sempat memanggil pihak PT Mitra Konstruksi selaku pengelola pembangunan. Mediasi dilakukan di rumah korban terdampak pembangunan.

Nah, saat mediasi itulah sempat diwarnai debat kusir antara Alexander dengan Wahyu Sabhara, Humas PT Mitra Kontruksi. Alexander tak terima saat Wahyu mengatakan, jika peristiwa yang menyebabkan kerusakan rumah Yenni bukanlah faktor kelalaian melainkan di luar kendalinya. Penjelasan itulah yang membuat Alexander naik pitam.

“Kalau bencana alam baru itu di luar kendali Anda. Ini jelas-jelas ada kelalaian kok Anda masih aja tidak mau minta maaf,” kata Alex pada Wahyu Sabhara.

Debat kusir itu akhirnya berhasil diredakan oleh Teguh. Dia meminta agar pihak pengelola apartemen mau bertanggungjawab atas peristiwa ini.  “Jangan mencari pembenaran, ini sudah terjadi dan buktinya memang ada kelalaian dan untung saja tidak ada korban jiwa, hanya kerusakan bangunan saja, sekarang bagaimana cara Anda untuk menyelesaikan masalah ini,” ucap Teguh pada Wahyu.

Teguh juga mengaku akan membuat berita acara peristiwa ini dan selanjutnya akan memanggil para pihak, baik owner Apartemen Hundred Residence (PT Rodeco Indonesia  dan Mitra Konstruksi) selaku pengelola. “Tetap akan saya buatkan berita acaranya dan pengelola maupun ownernya akan saya panggil,” ujar Teguh pada para pihak mediasi.

Atas penjelasan itu, Wahyu langsung meminta maaf pada Yenni dan mengecek beberapa kerusakan rumah yang dipakai Yenni untuk kantor. “Hari ini kami akan perbaiki ya bu,” ucap Wahyu pada Yenni.ad