Petani Tembakau : Rokok Rp 50 Rb, Untungkan Pabrik, Petani Tetap Rugi

petani tembakau (ilustrasi)

KANALINDONESIA.COM :Wacana naiknya harga rokok menjadi 50rb per bungkus, nampaknya menjadi pembahasan dikalangan masyarakat, bahkan hal ini juga meresahkan para petani tembakau di Jombang. Wacana ini pertama kali diusung Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany. Rencana menaikkan harga rokok ini dianggap tak menyentuh kepentingan petani tembakau yang selama ini sebagai penyuplai bahan baku.

Efendi (23) yang merupakan salah satu  petani tembakau asal Kepuhrejo, Kudu, Jombang, menilai gagasan menaikkan harga rokok hingga Rp 50 ribu per bungkus hanya akan menguntungkan produsen rokok. Dan tidak sama sekali menguntungkan bagi para petani tembakau, khususnya petani tembakau di wilayah Jombang.

Baca:  Parkir di Areal Pertokoan, Sebuah Mobil Terbakar Karena Alami Korslet

“Dari naiknya harga rokok, maka pabrik yang akan diuntungkan, dan belum tentu dapat  menjamin petani sejahtera karena belum tentu harga tembakau ikut naik,” kata Efendi. (23/08/2016)

Efendi yang juga merupakan anggota dari Asosiasi Perokok Indonesia (API),  menilai gagasan menaikkan harga rokok hingga Rp 50 ribu per bungkus hanya sebuah tekanan terhadap pemerintah pusat, yang hingga hari ini belum meneken ratifikasi kontrol tembakau internasional atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

“Di sisi lain, kebijakan pemerintah belum dirasakan berpihak terhadap mata rantai pertembakauan global,” paparnya.

Efendi menduga wacana menaikkan harga rokok sengaja digerakkan kelompok antitembakau dengan agenda internasional. Menurut dia, naiknya harga rokok diasumsikan menekan konsumen rokok. Sedangkan sektor produksi bahan baku, yakni petani tembakau, diabaikan.

Baca:  Pengelolaan Peternakan Kambing

“Kecuali yang dinaikkan harga tembakau, ini akan mempengaruhi biaya produksi dan sektor lain ikut naik. Karena terdorong bahan utama yakni tembakau,” katanya.

Ia menambahkan jika kebijakan menaikkan rokok hingga Rp 50 ribu justru membuat penikmat rokok Indonesia malah beralih ke tradisi lama, yaitu melinting dan cangklong dan mungkin ini akan lebih berdampak negatif terhadap kesehatan.

(elo)