Mengais Rizki dari Buri di Sumberwudi Lamongan

Begiru meriahnya masyarakat yang buri pada satu tambak setelah dikeringkan di Desa Sumberwudi Kecamatan Karanggeneng Lamongan. Foto:Omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Secara umum, Lamongan bagian tengah merupakan daerah pertambakan, baik tambak ikan. Sudah cukup lama masyarakat Desa Sumberwudi menjadikannya lahan pertanian sebagai lahan tambak, sehingga begitu banyak dan luasnya tambak di Sumberwudi menjadikan tambak sebagai lahan mata pencaharian bagi hampir keseluruhan masyarakat, baik dia sebagai pemilik, pendego (penjaga dan yang merawat tambak), maupun orang buri.

Buri yaitu para pengais sisa-sisa ikan ketika panen. Kegiatan ini termasuk dalam jenis pekerjaan dadakan sebagian masyarakat. Selain sebagai mata pencaharian, buri juga bisa dikatakan sebagai tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Pelaksanaan buri bukanlah suatu kegiatan yang terkordinir. Karena biasanya info tentang tambak yang akan dipanen dapat diketahui dari obrolan-obrolan masyarakat. Di Sumberwudi terdapat sebuah keluarga, sebut saja Paijo (nama samaran) yang semua anggota laki-lakinya rutin ikut buri. Dia mempunyai dua anak laki-laki, apabila mendengar ada orang yang akan memanen tambaknya, maka mereka bersama-sama akan berangkat ke lokasi. Mereka semua berjalan ke tambak yang dituju sambil memanggul keranjang atau jala (jaring kecil) yang digunakan untuk membawa ikan.

Dalam buri sendiri terdapat dua golongan, yaitu orang yang memang datang untuk buri, kedua tetangga penunggu tambak yang juga ikut serta saat memanen untuk membantu. Buri semakin ramai ketika memasuki bulan Ramadhan atau menjelang hari raya. Pada saat itu banyak tambak yang panen karena biasanya harga ikan naik.

Ketika memanen tambak, pemiliknya akan memperkerjakan beberapa orang untuk membantu mengambil ikan. Sebelumnya, tambak terlebih dahulu dikeringkan untuk memudahkan pengambilan ikan. Kemudian para pekerja dengan menggunakan beberapa pelepah pohon pisang menyisir tambak memutar dari pinggir untuk menggiring ikan-ikan masuk ke jaring besar, lantas diangkat. Sedangkan orang yang buri akan mengikuti dari belakang untuk mengambil sisa-sisa ikannya. Orang-orang yang buri sendiri harus mengikuti jalur, tepat di belakang para pekerja. Setelah panen selesai, ikan-ikan yang didapat orang buri, ada yang langsung diberikan ke pemilik tambak, kemudian diganti dengan uang. Ada juga yang di bawa pulang, baik untuk dijual pada tengkulak lain atau dimasak sendiri.

Tradisi buri sepintas seperti sebuah mata pencaharian, namun kegiatan ini jika diamati, termuat ajaran-ajaran tentang kehidupan gotong royong dalam sebuah masyarakat. Alasannya, secara perhitungan keuntungan adanya buri semakin merugikan bagi pemilik tambak pada setiap panen. Untuk memanen sebuah tambak cukup hanya dengan memperkerjakan lima sampai sepuluh orang saja, tetapi dengan adanya orang yang buri, kegiatan panen bisa didatangi 60 orang bahkan bisa sampai 100 orang.

Kebiasaannya, orang buri hanya diperkenankan untuk mengambil sisa-sisa ikan panenan dan kegiatan ini tidak pernah dilarang oleh pemilik tambak. Jika pemilik tambak melarang orang yang buri, ia bisa menjadi cibiran dan pergunjingan di masyarakat. Dari sini kemudian kerenggangan sosial akan muncul. Pelarangan dari pemilik tambak dapat berakibat anggapan jelek terhadapnya, seperti kikir dan pelit. (Omdik)