Fadli Zon: Negara-Negara Muslim Harus Bersatu dan Tak Terpecah Belah

KANALINDONESIA.COM, TEHERAN: Ketua Delegasi DPR RI Fadli Zon, menyampaikan pidato dalam Konferensi Uni Parlemen Negara-Negara anggota OKI (Parliamentary Union of the OIC Member States, PUIC). Sesi pidato para ketua delegasi negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) itu digelar sesudah konferensi dibuka oleh Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani dengan didampingi oleh Ketua Parlemen Iran Ali Larijani. Sejumlah permasalahan dunia Islam disinggung dalam pidato Wakil Ketua DPR RI tersebut.

“Pertama-tama, mewakili Indonesia saya menyampaikan belasungkawa kepada pemerintah dan rakyat Iran atas kecelakaan kapal tanker Iran di Laut Cina Timur pekan lalu. Kemudian, sebagai salah satu negara sahabat, saya juga menyampaikan bahwa kehadiran delegasi Indonesia dalam Konferensi PUIC adalah bentuk dukungan kepada pemerintah Iran untuk menjaga stabilitas nasionalnya dan menolak dengan keras segala upaya intervensi asing yang dapat melanggar kedaulatan Iran. Kami percaya bahwa Iran akan mampu menangani situasi dengan lancar dan damai.”

“Isu penting yang sejak awal diangkat oleh delegasi parlemen Indonesia adalah tentang bagaimana memperkuat PUIC. Mustahil PUIC bisa menjadi organisasi yang kuat dan berpengaruh jika negara-negara Muslim sendiri terlibat dalam konflik dan perpecahan. Kita selama ini kesulitan membela Palestina, misalnya, atau suara dunia Islam selalu disepelekan Amerika dan Israel, karena kita sendiri memang tercerai-berai, terpecah belah. Negara-negara Muslim harus menyadari hal ini dan mulai berbenah.”

“Selain soal persatuan, saya juga mengutarakan pentingnya negara-negara Muslim untuk memerangi kemiskinan. Setengah dari kemiskinan global berada di dunia Islam, sementara populasi Muslim adalah 24 persen dari total populasi global. Saya khawatir, meningkatnya kemiskinan di negara-negara Islam akan berkontribusi terhadap meningkatnya radikalisme dan terorisme. Di belakang isu terorisme dan radikalisme, memang tersembunyi isu kemiskinan dan kesenjangan.”

“Indonesia juga mengajak kepada negara-negara Muslim untuk menunjukkan solidaritas kepada komunitas Muslim yang teraniaya, seperti yang dialami oleh Muslim Rohingya. Kasus Rohingya adalah tragedi kemanusiaan terburuk sepanjang tahun 2017. Dilaporkan bahwa jumlah korban jiwa Rohingya mencapai 6.700 dalam satu bulan. Sekitar 1,1 juta Muslim Rohingya telah meninggalkan Myanmar ke Bangladesh untuk melarikan diri dari apa yang oleh PBB disebut ‘pembersihan etnis’ sistematis.”

“Saya sampaikan, baru-baru ini saya merasa terhormat untuk memimpin misi Parlemen Indonesia dalam sebuah kunjungan resmi untuk mendapatkan informasi langsung mengenai pengungsi Muslim Rohingya. Saya berada di distrik Cox’s Bazar di Bangladesh bagian selatan di mana saya mendengar dari anak-anak yang selamat dan keluarga mereka tentang kekejaman mengerikan yang mereka alami. Kita membutuhkan simpati dan suara dunia Islam untuk membantu kaum Muslim Rohingya.”

“Dalam Sidang Parlemen Negara-negara ASEAN (AIPA) di Manila tahun lalu, parlemen Indonesia dengan tegas mendesak Pemerintah dan Parlemen Myanmar untuk segera memulihkan perdamaian dan stabilitas, serta memberikan keamanan dan bantuan kepada semua pihak yang memerlukan terlepas dari etnisitas, ras, agama dan kepercayaan. Parlemen Indonesia juga mendesak agar Pemerintah Myanmar melaksanakan rekomendasi Komisi Penasihat PBB untuk Rakhine. Namun, tanpa tekanan massif dari negara-negara lain, terutama dari dunia Islam, kita bisa menyaksikan bagaimana pemerintah Myanmar telah mengecilkan imbauan-imbauan tadi.”

“Saya juga menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam mendukung rakyat Palestina. Isu tentang Palestina mendapatkan perhatian penting di tengah masyarakat Indonesia. Sebab, bagi masyarakat Indonesia, penderitaan rakyat Palestina akibat penjajahan Israel. Karena konstitusi Indonesia tegas mengecam adanya penjajahan di muka bumi, maka rakyat Indonesia selalu berada di samping rakyat Palestina. Itu pula sebabnya Indonesia hingga hari ini tak pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel.”

Dalam pidato, Fadli Zon juga mendukung pernyataan resmi pemerintah Indonesia pada Konferensi Luar Biasa Organisasi Konferensi Islam di Istanbul, yang meminta negara-negara anggota OKI untuk mempertimbangkan kembali hubungan dengan Israel. Parlemen Indonesia telah memberikan dukungan penuh pada Palestina dan selalu menyampaikan persoalan Palestina dalam agenda penting di berbagai forum parlemen dunia, seperti Inter-Parliamentary Union (IPU), Asian Parliamentary Assembly (APA), Asia Pacific Parliamentary Forum (APPF), ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA), dan berbagai forum bilateral.

“Saya sampaikan, isu Palestina mendapat perhatian utama rakyat Indonesia. Aksi Bela Palestina yang dihadiri jutaan orang di Jakarta pada 17 Desember 2016 lalu menunjukkan hal itu. Itu adalah aksi publik terbesar yang dilakukan untuk mengecam pengakuan sepihak AS atas Yerusalem sebagai ibukota Zionis Israel. Lebih dari tiga juta pemrotes menyatakan sikap kuat mereka untuk berdiri bersama dengan rakyat Palestina.”

“Terakhir, saya menyampaikan agar PUIC sebagai perwakilan masyarakat dunia Islam harus memikul tanggung jawab untuk untuk mencari solusi yang menyeluruh atas problema dunia Islam hari ini. Itu sebabnya, Karya PUIC harus segera direvitalisasi. Untuk memperbaiki perannya dalam memajukan negara-negara Islam, PUIC perlu direformasi. Parlemen Indonesia menyampaikan harapan agar Konferensi PUIC ke-13 di Teheran, Iran, bisa merumuskan langkah konkret dalam upaya menyatukan semua negara muslim dunia.” (gardo)