Jadi Korban Salah Tembak, Seorang Bapak Dua Anak Terbaring Tak Berdaya

Ilustrasi

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG: ES (33), seorang bapak dua anak asal Desa Cetakgayam, Kecamatan Mojowarno, Jombang Jawa Timur, harus tergeletak tak berdaaya.

Hal ini dikaranekan ES menjadi korban salah tembak yang diduga dilakukan oknum polisi. Bahkan ES harus ikhlas terbaring di atas kasur, dalam waktu yang lama.

“Terhitung sekarang, sudah hampir tiga bulan saya belum bisa kerja, sebab kaki saya masih belum kuat buat aktivitas berat,” kata ES, saat ditemui sejumlah jurnalis, Jumat 26 Januari 2018.

Saat disinggung bagaimana, kronologi kejadian tersebut, sembari menahan sakit, ES menceritakan bahwa, kejadian penembakan yang dialaminya tersebut terjadi dipenghujung bulan Oktober.

Saat itu, seperti biasa dirinya bekerja di salah satu pemilik usaha mebel di wilayah Desa Wringinpitu, Kecamatan Mojowarno.

Memasuki waktu istirahat siang, sekitar pukul 13.00 dirinya diminta membeli baut di salah satu bengkel tak jauh dari lokasi kerja.Tak berselang lama, tiba-tiba datang iring-iringan kendaraan petugas. “Saya tidak ingat persis, kalau gak salah ada lebih dari lima mobil kayaknya,” ujarnya.

Masih menurut ES, selanjutnya keluar puluhan orang dan segera menuju bengkel. Saat mengetahui puluhan orang asing tersebut, dirinya pun bermaksud menghindar, karena ES masih mengalami trauma, karena pernah menjadi korban salah tangkap oleh Polisi.

“Dulu saya pernah jadi korban salah tangkap, karena diduga melakukan pembunuhan. Setelah delapan hari saya ditahan, akhirnya dibebaskan,” ungkapnya.

Lanjut ES, salah satu petugas sudah lebih dulu menarik tubuhnya dengan kasar. “Saya ditarik dengan kasar, terus ditanya siapa kamu? Saya jawa bukan siapa-siapa pak,” tegasnya.

Mengetahui bahwa dirinya berusaha mebghindari petugas, sontak petugas langsung melakukan pengejaran dan melepaskan tembakan yang tepat mengenai bagian lutut kakinya sebelah kanan. “Saya spontan lari, karena sudah sangat-sangat ketakutan,” paparnya.

Imbuh ES, dengan kondisi terluka, pihaknya terus berusaha lari dan bersembunyi di rumah salah satu warga. Sejumlah petugas yang mengejar akhirnya kembali setelah terdengar intruksi. “Saya sempat dengar ada suara, kembali semua,” tiru ES.

Atas kejadian tersebut, warga sekitar panik. Sesaat setelah rombongan yang diduga gabungan anggota Polisi dari Polres Jombang kembali, warga kembali beraktivitas dengan normal. Selanjutnya ES ditolong warga untuk menjalani perawatan.

”Saya dibawa ke petugas medis (red: mantri) untuk membantu mengeluarkan peluru yang masih tertinggal di kaki,” tandasnya.

Beru setelah berhasil mengeluarkan peluru, dirinya pun menjalani perawatan intensif di rumah sakit, setempat. Sungguh miris, selain harus mengeluarkan banyak biaya berobat, ES justru semakin terbebani, karena harus memikirkan kebutuhan hidup keluarganya.

Ketika ditanya mengapa pihaknya tidak melapor ke polisi, ES mengaku masih trauma dengan Polisi. “masih trauma akibat kejadian salah tangkap dulu,” tukasnya.

Dikonfirmasi secara terpisah Suud, warga Kecamatan Mojowarno mengaku menyesalkan sekali insiden penembakan yang menyasar salah satu anak buahnya tersebut. Pasalnya, selama ini dirinya mengenal pribadi ES yang baik.

“Setiap hari dia kerja ikut saya, tidak neko-neko, apalagi sudah punya keluarga dan dua anak,” katanya.

Setelah insiden penembakan tersebut, sampai hari ini, ES belum bisa bekerja. ”Katanya kakinya belum bisa dibuat banyak gerak. Jangankan buat kerja, jalan saja dia masih tertatih tatih,” imbuhnya.

Imbuh Suud, pihaknya menyesalkan kejadian tersebut, karena setelah insiden salah tembak tersebut, tidak ada satupun pihak yang mau bertanggungjawab. ”Tidak ada yang tanggungjawab. Saya membayangkan semisal sampai ES tewas, padahal dia sama sekali tidak pernah berhubungan dengan narkoba. Harusnya petugas bekerja profesional, tidak arogan begitu,” pungkasnya.

Saat dikonfirmasi, Kapolres Jombang AKBP Agung Marlianto sudah mendengar adanya kejadian tersebut. Namun, Kapolres memastikan bahwa insiden yang diduga salah tembak tersebut bukan dilakukan oleh anggota Polres Jombang. ”Sudah saya cek ke internal, dipastikan oknum tersebut bukan dari anggota Polres Jombang,” pungkas Agung.(elo)