Pejuang dan Keperpihakannya

    Oleh : Subadianto, Ketua Fraksi PAS DPRD Kab. Trenggalek

    Dunia ini adalah pertarungan, perlombaan, dan kompetisi; antara kebenaran dan kebatilan, antara kejujuran dan ketamakan, antara pengikut kebenaran  dan penyembah setan, hawa nafsu, dan materi. Maka, akan selalu muncul pejuang dan pemenang, juga akan selalu menyisakan para pecundang dan orang-orang yang terpinggirkan. Karenanya, mereka selalu berjuang untuk menang melawan musuh yang jauh di depan sana, maupun musuh terdekat; hawa nafsu, kelemahan dan kekerdilan jiwanya. Mereka tak rela membiarkan dirinya menyerah kalah. Termassuk kekalahan yang paling menyakitkan adalah kalah melawan godaan diri, gagal mempertahankan prinsip dan nilai, sehingga mudah menjadi budak nafsu, menjual kehormatan dirinya atau menggadaikan martabat agama dan bangsanya, itulah seburuk-buruknya pecundang.

    Kita biasa mengartikan bahwa pejuang itu adalah orang yang sudah berjasa dalam mengantarkan kemerdekaan bangsa ini. Dalam artian lain pejuang merupakan orang-orang yang melakukan perbuatan di atas peran yang dilakukan oleh manusia kebanyakan. Mereka rela mengambil peran yang tidak banyak orang yang memikulnya. Pejuang juga merupakan orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri sehingga ia mempunyai banyak waktu untuk memberikan kemanfaatan bagi banyak orang. Hidupnya diisi dengan melakukan kegiatan besar dan memberikan dampak besar.

    Pejuang  adalah mereka yang tidak tersandera oleh cinta, kasih sayang dan keberpihakan, entah datang dari pihak keluarga, kerabat, teman dekat atau para penyokong perjuangannya , sehingga ia tak perlu repot untuk membahagiakan mereka dengan cara tak wajar dan melanggar muruahnya . Mereka berjuang tidak untuk mencari popularitas, tidak juga ingin dikenang, apalagi hanya untuk mengejar tahta dan harta. Perjuangan yang dilakukan tulus untuk kemaslahatan bangsa dan umat yang ia cintai.