Bidan Desa Kendal Kemlagi Lamongan Sosialisasikan ORI Difteri Pada Anak-Anak TK

Muthoiyah memberikan sosialisasi tentang penyakit Difteri di depan anak-anak TK dan para ibu. Foto:omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Penyakit difteri kini mengancam seluruh wilayah di Indonesia, termasuk Kabupaten Lamongan. Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, mencatat ada 3 kasus penyakit difteri selama bulan Januari tahun 2018 dan saat ini dirawat di RSUD dr. Soetomo Surabaya Penyakit mematikan yang disebabkan bakteri berbahaya tersebut, sudah menelan korban jiwa terutama anak-anak. Namun hanya sedikit warga yang mengetahui tentang jenis penyakit ini.

Untuk mengantisipasi merebaknya bakteri tersebut menjadi wabah penyakit maka jajaran di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan melakukan sosialisasi program penanggulangan penyakit difteri bernama “Outbreak Response Immunization” (ORI), seperti yang dilakukan oleh Muthoiyah Bidan Desa Kendalkemlagi Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan, Selasa (6/2/2018) melakukan sosialisasi di beberapa TK di wilayah desanya.

Kedatangan Muthoiyah di beberapa Taman Kanak-Kanak tersebut dengan tujuan bisa berkomunikasi dengan anak-anak dan tentunya bisa langsung bertatap muka dengan ibu-ibu yang sering dekat dengan anaknya sehingga pengenalan terhadap penyakit difteri ini bisa diketahui lebih dini.

Difteri pada anak adalah salah satu penyakit yang dapat mengancam nyawa anak. Berbagai macam penyakit yang menyerang anak-anak yang disebabkan oleh beberapa faktor lainnya yang dapat mempengaruhi perkembangan anak-anak. Utamanya pada anak yang sedang mengalami proses pertumbuhan yang mana kurang perhatian orang tua saat mereka bermain. Sehingga, hal ini membuat anak-anak mudah terserang penyakit yang disebabkan karena infeksi. Infeksi ini bisa berupa bakteri, virus, hingga microorganisme lainnya yang mana dapat menghambat kondisi imunitas pada anak dan melemah.

Menurut Muthoiyah, mewabahnya penyakit mematikan ini, selain disebabkan cepatnya penularan bakteri corynebacterium diptheria penyebab difteri, juga karena minimnya pengetahuan warga. Mereka menganggap anggota keluarga yang terkena penyakit ini hanya flu, radang tenggorokan atau demam biasa karena ciri-ciri atau gejala serangan mirip dengan flu. Warga lebih mengenal penyakit DBD ketimbang difteri.

“Pemicu lainnya, banyak warga yang enggan membawa anaknya melakukan vaksinasi dengan berbagai alasan. Padahal imuninasi sangat penting guna menangkal serangan bakteri corynebacterium diptheria. Apalagi penularan difteri sangat cepat. Penularan yang paling sederhana, menghirup udara saat penderita bersin atau batuk penderita difteri”, terangnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pencegahan difteri yang paling utama adalah dengan imunisasi. Vaksin untuk imunisasi difteri ada 3 jenis, yaitu vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Imunisasi Difteri diberikan melalui imunisasi dasar pada bayi di bawah 1 tahun sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. Selanjutnya, diberi Imunisasi lanjutan pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib, pada anak sekolah tingkat dasar kelas 1 diberikan 1 dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas 2 diberikan 1 dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas 5 diberikan 1 dosis vaksin Td.

Imunisasi merupakan salah satu cara yang paling efektif dalam pencegahan penyakit difteri pada anak. Maka dari itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan meningkatkan adanya sosialisasi pentingnya vaksin DTP untuk mencegah terjadinya difteri pada anak-anak. Terlebih lagi, bahwa anak-anak adalah masa yang yang paling rentan terserang penyakit.(Omdik)