Pendidikan Karakter Bertujuan Menghadirkan Siswa Yang Bermoral

Salah satu siswa ketika mengikuti suatu kegiatan di sekolahnya. Foto:omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Rasanya miris saat kita berusaha meningkatkan mutu pendidikan kita dengan mencoba bergonta-ganti kurikulum untuk mencari formula yang tepat untuk melaksanakan pendidikan di negeri ini dengan mengedepankan karakter anak, tiba-tiba kita dikejutkan dengan kejadian di Kabupaten Sampang Madura.

Seorang siswa dengan emosional menciderai guru hingga meninggal dunia. Alibi apapun yang dimunculkan oleh si oknum siswa itu tidak akan bisa diterima oleh lapisan masyarakat manapun terutama korps “omar bakrie” tersebut. Lalu bagaimana pola pendidikan kita? Apakah ada yang salah?

Perkembangan kehidupan yang terjadi saat ini, pelan tapi pasti menjadikan manusia seolah terkotak-kotakkan. Perubahan ini, lambat laun mengantarkan kita pada tingginya rasa individualitas, terkikisnya nilai-nilai moral secara perlahan serta ambisi untuk menonjolkan keegoannya sebagai manusia berani. Semua ini menyebabkan kita lupa bahwa sesungguhnya manusia tak dapat hidup tanpa peran orang lain.

Kondisi ini pulalah yang saat ini menghinggapi anak didik kita. Anak didik sebagai objek dari pelaksanaan pendidikan, telah mulai menunjukkan kondisi ini. Dengan dalih ingin dikatakan sebagai manusia yang mengikuti perkembangan zaman, etika dan sopan santunpun berani di “tabrak”. Ujung-ujungnya, anak didik mulai bertindak lebih berani. Guru yang tidak disukai pun berani didemo.

Kebiasaan mengemukakan pendapat yang biasanya diajarkan dalam salah satu mata pelajaran pun, dianggap sebagai cara yang jitu untuk mengeritik gurunya. Mengeritik apa saja yang tidak disukai ala mereka, tanpa pernah merasa bersalah atau merasa sikapnya itu tidak benar. Nonsen katanya! Ini zaman reformasi, setiap orang bebas mengemukakan pendapat. Itulah dalih untuk membenarkan sikapnya.

Pendidikan karakter di sekolah secara sederhana bisa didefinisikan sebagai, “pemahaman, perawatan, dan pelaksanaan keutamaan (Practice of virtue). Olehnya itu, pendidikan karakter di sekolah mengacu pada proses penanaman nilai berupa pemahaman-pemahaman, tata cara merawat dan menghidupkan nilai-nilai itu, serta bagaimana seorang siswa memiliki kesempatan untuk dapat melatihkan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Para insan pendidik seperti guru, orang tua, staf sekolah, dan masyarakat diharapkan perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana pembentuk pedoman prilaku, pengayaan nilai individu dengan cara menjadi figur keteladanan bagi anak didik serta mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses pertumbuhan berupa kenyamanan dan keamanan yang dapat membantu suasana pengembangan diri individu secara keseluruhan dari segi teknis, intelektual, psikologis, moral, sosial, estetis dan religius.

Pendidikan karakter, lebih mengutamakan pertumbuhan moral individu. Penanaman nilai-nilai dalam diri siswa dan pembaharuan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu merupakan dua wajah pendidikan karakter dalam lembaga pendidikan. Anak didik sebagai individu jika memiliki moral yang baik tentu akan melahirkan kepribadian yang luar biasa, sikap dan perilaku yang dilakoni dalam kehidupan sehari-hari, merupakan cermin dari kepribadian dirinya. Berikutnya tentulah akan memunculkan anak didik yang bermoral dan berbudaya diatas kebebasannya sebagai individu.

Terlepas dari apa yang diuraikan di atas, semua terpulang pada guru sebagai motivator dan penggerak di lapangan. Lalu bagaimana orang tua dan lingkungan bisa mendukung dalam pendidikan karakter dalam membangun moral anak? (Omdik)