Tanam Pakcoy Dengan Sistem Hidroponik, Puskesmas Paciran Terlihat Asri

Sukaryawati Suhron ketika berada di tempat tanaman hidroponiknya yang berada di Puskesmas Paciran Lamongan. Foto:omdik_kanalindonesia.com
Sukaryawati Suhron ketika berada di tempat tanaman hidroponiknya yang berada di Puskesmas Paciran Lamongan. Foto:omdik_kanalindonesia.com
KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Bermula dari keinginan melihat lingkungannya segar dengan berbagai macam tanaman, beberapa pegawai di lingkungan Puskesmas Paciran Lamongan Jawa Timur menanam sayuran dengan metode hidroponik.

Metode menanam dengan menggunakan media hidroponik yang dilakukan oleh staf dan pegawai di lingkungan Puskesmas Paciran tersebut, diakui sangat efektif untuk dikembangkan di lingkungan masyarakat Paciran khususnya beberapa instansi pemerintah dan beberapa pemukiman penduduk yang lahannya terbatas. Puskesmas yang terletak di Jalan Raya Deandeles tersebut sekarang di salah satu sudut halamannya terlihat segar oleh tanaman yang sangat hijau oleh beberapa tanaman yang ditanam secara hidroponik

Hidropoik sendiri sebenarnya adalah budidaya tanaman dengan penanaman di dalam air (memanfaatkan air), dan memprioritaskan terpenuhinya kebutuhan nutrisi tumbuhan.

Meskipun di tanam di dalam air, namun tumbuhan yang dibudidayakan dengan teknik ini membutuhkan lebih sedikit air, sehingga penamaan hidroponik ini sangat cocok di coba pada daerah yang memiliki pasokan air minim.

Sistem pertanian hidroponik ini terbukti lebih produktif ketimbang menanam di media tanah. Dengan hidroponik, masa panen sayuran, seperti sawi, bayam dan selada, hanya membutuhkan waktu 45 hari tanam. Sedang penanaman secara konvensional baru bisa dipanen setelah 80 hari.

Pemilihan jenis tanaman yang ditanam pun menjadi pertimbangan yakni menanam tanaman yang produktif terutama jenis sayur-sayuran. Pemilihan jenis sayur-sayuran ini bukan karena tanpa alasan, semua itu dikarenakan latar belakang yang punya kreatif menanam dengan sistem hidroponik itu rata-rata para perempuan bidan dan perawat di lingkungan Puskesmas Paciran.

Dengan latar belakang tersebut maka jenis tanaman yang ditanam adalah Pakcoy, yaitu sayuran hijau yang masih satu golongan dengan sawi. Bahkan pakcoy sering dinamai sawi sendok akibat bentuknya yang memang mirip sendok. Ada pula yang menamakan sawi manis atau sawi daging karena pangkalnya yang lembut dan tebal seperti daging.

Pakcoy (Brassica rapa L) yang biasa digunakan untuk bahan sup atau sebagai penghias makanan ini berasa dari Cina. Di sana pakcoy sangat populer dan menyebar ke negara lainnya termasuk Indonesia. Tidak hanya warga Cina, warga pribumi pun mulai menyukai pakcoy karena lezat dan manfaat yang terdapat di pakcoy.

Tanaman ini memiliki rahasia ajaib yang masih jarang diketahui masyarakat antara lain yaitu kandungan vitamin A tinggi mampu menjaga kornea mata agar selalu sehat. Kandungan vitamin E pada pakcoy berfungsi sebagai antioksidan di dalam sel, kandungan vitamin K yang sangat tinggi berguna dalam membantu proses pembekuan darah, mencegah penyakit jantung dan stroke. Selain itu, tanaman yang mengandung folat sangat baik dikonsumsi oleh ibu hamil, karena folat berfungsi untuk mencegah terjadinya cacat tabung saraf, kelainan pembentukan otak atau terjadinya kemungkinan kelainan tulang belakang pada janin.

Programer YanKesTrad. (pelayanan kesehatan trdisional) Puskesmas Paciran, Sukaryawati Suhron, Amd. Keb. mengatakan konsep hidroponik ini bisa dilakukan di rumah masing-masing. Selain dirasa lebih sehat juga bisa untuk menghemat anggaran biaya rumah tangga. Sementara ini dicoba di lingkungan Puskesmas Paciran dulu sebagai percontohan.

“Paling tidak, bisa ada penghematan dalam pengeluaran rumah tangga. Tidak perlu beli sayuran, cukup dengan tanaman sendiri,” kata Sukaryawati, saat ditemui oleh kanalindonesia.com, Rabu (7/2/2018).

Menurut Sukaryawati, sayuran hidroponik ini memiliki kelebihan dibandingkan sayuran yang ditanam secara konvensional, yakni bisa dikonsumsi langsung karena perawatannya tidak menggunakan bahan kimia. “Insya Allah ini lebih sehat dan lebih alami, karena tanpa pupuk, pestisida dan segala macam,” ujar Sukaryawati.

Pihak Puskesmas Paciran sengaja memanfaatkan lahan di salah satu sudut halaman untuk ditanami berbagai jenis sayuran. Selain bertujuan untuk menanamkan karakter cinta lingkungan kepada karyawan Puskesmas Paciran, juga menumbuh kembangkan semangat interpreneur yang kuat merupakan esensi utama dari program Paciran hijau.

Terlebih metode ini dirasa efektif dikembangkan di instansi dan perkantoran yang lahannya terbatas. “Semangat yang dilakukan oleh keluarga besar Puskesmas Paciran mudah-mudahan bisa menular ke instansi dan lembaga lain,” pungkas Sukaryawati.(omdik)