Perjuangan Pegawai PTPN XI Mencari Keadilan

KANALINDONESIA.COM, Surabaya Penampilannya sederhana. Sedikit kusut tapi rapi. Cuma wajahnya terlihat lelah. Sekilas dia tampak garang tapi sebenarnya pembawaannya kalem. Nursiyo tidak banyak bicara, kecuali ditanya.

Nursiyo bercerita, seharian ini menunggu bosnya yang sedang menggelar meeting di Hotel Bumi Surabaya. Dari pagi hingga sore Nursiyo dengan sabar menunggu. “Ya beginilah sopir, Mas. Harus banyak sabarnya. Tanggung jawab yang kita emban besar,” tutur bapak empat anak ini.

Nursiyo sendiri merupakan pegawai PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI. Lebih dari 20 tahun dia bekerja sebagai sopir para direksi PTPN XI. Pertama kali datang ke Surabaya tahun 1989, lelaki asal Jember ini langsung bekerja di PTPN XI. Setelah 10 tahun dia baru diangkat pegawai tetap.

Dia menceritakan, perjalanan hidupnya bak air hujan turun dari langit. Ayahnya adalah pegawai PTPN XI di PG Semboro Jember. Kakeknya juga. Begitu pula buyut-buyutnya. Meski turun menurun dari keluarga, namun Nursiyo sangat menikmati pekerjaannya. Baginya pekerjaan adalah sebuah amanah.

Antara bersyukur dan bangga. Nursiyo tidak muluk-muluk dalam menjalani hidup. “Kita diberi amanah. Harus dijalani dengan baik. Kalau mau awet, ya kita musti istiqomah,” pesan Nursiyo.

Meski gaji pas-pasan, namun Nursiyo memiliki harapan besar pada anak-anaknya. Di usianya 54 tahun dan mendekati pensiun, dia ingin melihat anak-anaknya berhasil mewujudkan cita-cita.

“Semua anak pasti punya cita-cita. Orangtua mana yang tidak mau melihat anak-anaknya berhasil. Saya selalu mendukung apa yang dicitakan mereka. Anak saya yang pertama ingin kuliah di ITS (Institut Teknologi Surabaya). Alhamdulillah berhasil. Dia kini bekerja di perusahaan. Anak ketiga bekerja di perusahaan kereta api Indonesia (KAI). Yang keempat masih kecil kelas 3 sekolah dasar,” terangnya.

Bagaimana dengan anak kedua? Nursiyo menjelaskan dengan menghela nafas dalam-dalam. Ada permasalahan yang cukup pelik menghantuinya. Dengan rokok terselip di bibir, dan begitu sebelumnya rokok berbatang-batang telah dihabiskan. Sekiranya sudah cukup baginya untuk mengurai masalah yang tengah dihadapi.

Ya, masalah itu muncul semenjak anaknya ingin masuk mendaftar ke TNI AL. Nursiyo menceritakan, anaknya yang kedua memiliki cita-cita ingin menjadi tentara. “Sejak kecil cita-citanya mau jadi tentara. Saya sangat bangga. Saya ingin membantu mewujudkan cita-citanya,” kata Nursiyo mengawali cerita.

Diakui Nursiyo tidak mudah masuk ke militer. Saat mendaftar pertama tahun 2014, anak Nursyo gagal menjalani tes. Saat itu usia sang anak 22 tahun. Namun Narsiyo tidak patah arang. Dia terus menyemangati anaknya untuk berusaha.

Masalah itu baru muncul saat bertemu dengan mantan atasannya Erwin Basri pada tahun 2015. Dulu Erwin menjabat sebagai kepala humas PTPN XI. Dia baru pensiun pada tahun 2015. Terhadap Erwin, Nursiyo sangat respect. Apalagi Erwin adalah kakak kandung mantan Direktur Utama (Dirut) PTPN XI dan kemudian pindah di PTPN XII juga sebagai Dirut hingga pensiun.

Saat menceritakan Erwin, sejenak Nursiyo berhenti. Tatapan matanya menjadi kosong. Dia menerawang ke langit-langit. Pikirannya seolah tersandera dengan nama Erwin. Lalu, dia meneruskan ceritanya.

“Sebelum bertemu Erwin, saya dikabari bahwa kalau dia bisa membantu mewujudkan cita-cita anak saya. Saya pun menemui istri mudanya yang juga bekerja di PTPN XI. Ternyata benar, istrinya bilang supaya saya menemui Erwin di rumah,” kenang Nursiyo.

Walhasil, dia pun langsung meluncur ke rumah Erwin Basri di Jalan Jambu 5 no 108, Pondok Candra Indah, Sidoarjo. Di sana dia disambut baik. Tapi mendadak suasana menjadi berubah saat Erwin bertanya jumlah uang yang dimiliki Nursiyo.

“Kamu punya uang berapa agar anakmu bisa masuk tentara,” kata Erwin saat itu.

“Saya tidak punya uang, Pak!” Balas Nursiyo.

“Terus apa yang kamu punya?” Tanyanya lagi.

“Saya hanya punya mobil. Ini pun cicilan belum lunas,” balasnya.

Seketika itu Erwin mengajak Nursiyo ke pihak Astra Credit Companies (ACC) di Jalan Panglima Sudirman untuk melunasi mobil. Rencana mobil dan kelengkapan surat-surat akan dijadikan jaminan agar anaknya bisa lolos tes TNI AL.

Saat itu harapan Nursiyo sangat besar agar dapat meloloskan cita-cita sang anak. Sehingga dia sama sekali tidak menaruh curiga dengan gelagak Erwin yang sebenarnya hendak mengambil mobilnya.

Sebelum tiba di kantor ACC, Erwin meminta kartu ATM Nursiyo dengan sedikit paksaan. Saat ditanya untuk apa ATM, Erwin menjawab akan dipakai untuk melunasi mobil. Setelah ATM diberikan, seluruh uang sekitar Rp 4.000.000 langsung diambil Erwin. Sementara dia sendiri hanya nomboki Rp 1 juta untuk pelunasan mobil.

Pada tanggal 23 Mei 2014, begitu mobil Xenia tahun 2009, warna silver metalik dengan Nopol L 1965 GU beserta BPKB dan STNK langsung dibawa Erwin dengan alasan sebagai jaminan. Dia juga mewanti-wanti Nursiyo agar tidak bilang ke siapapun prihal penyerahan mobil. Sebelum membawa mobil, Erwin meminta Rp 2.500.000 untuk biaya psikotes anaknya.

“Saya diwanti-wanti agar tidak cerita ke orang-orang. Jangankan orang-orang, iblis pun jangan sampai tahu,” tandas Nursiyo.

Saat itu Nursiyo bagaikan orang linglung. Dia hanya bisa mematuhi perintah Erwin tanpa menolak. Bahkan ketika Erwin bilang bahwa mobil itu nantinya dipakai sebagai uang operasional, Nursiyo sempat bilang bahwa dia tidak menjual mobil tersebut. Tapi dia seperti orang terkena gendam. Akhirnya manut semua kata-kata Erwin.

“Saya bagai digendam. Manut saja. Semua saya serahkan begitu saja. Sepulangnya saya bercerita ke istri. Orang rumah memaklumi. Tapi sebenarnya juga was-was. Maklum, namanya orangtua ingin melihat anaknya sukses. Besar harapan kami agar anak kami diterima masuk TNI AL,” akunya.

Ditolak Polisi Bukti Kurang

Sepanjang perjalanan waktu, hari yang ditunggu telah tiba. Pendaftaran bintara TNI AL dibuka kembali. Nursiyo langsung mengabari anaknya untuk mendaftar. Kali ini dia berharap anaknya dapat lolos tes dan diterima. Selain itu, dia juga menanti janji-janji Erwin. Sayangnya, Nursiyo kembali menelan kekecewaan. Pasalnya, sang anak kembali gagal masuk tes.

Dari situlah Nursiyo mulai curiga dengan Erwin. Beberapa kali dia menelepon Erwin untuk menuntut janji-janjinya, namun selalu dibalas dengan janji-janji lagi. Nursiyo pun juga tidak berani bercerita ke rekan-rekan kerjanya. Sebab, dia khawatir dengan amarah atasannya, tak lain adik Erwin yang menjabat sebagai Dirut PTPN XI kala itu.

Sejak anaknya gagal masuk TNI AL, mobil yang dijaminkan juga tak kunjung kembali. Bahkan kabarnya sudah dijual ke pihak ketiga. Tidak henti-hentinya Nursiyo menagih Erwin. Namun yang ditagih malah semakin susah dihubungi. Saat mendatangi rumah di Pondok Candra, Nursiyo mendapati rumah tersebut sudah dikosongi dan dalam proses dijual. Sebab di depan rumah ada plang dengan tulisan “rumah dijual”.

Selain itu, Nursiyo juga sempat melayangkan surat somasi yang diberikan kepada istri mudanya. Entah disampaikan atau tidak, namun surat somasi tersebut tidak pernah mendapat balasan.

Puncaknya, kasus dugaan penipuan dan penggelapan mobil yang dilakukan Erwin Basri ini, akhirnya dilaporkan ke Polrestabes Surabaya, Rabu, 7 Februari 2018.

Pada pukul 13.00 WIB, Nursiyo mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Surabaya dengan didampingi wartawan.

Nursiyo datang dengan menunjukkan beberapa bukti yang dimiliki. Kepada dua petugas SPKT, Nursiyo membeberkan kronologis dugaan penipuan dan penggelapan mobil yang dilakukan mantan pimpinannya tersebut.

Sayangnya, korban yang berharap bisa melaporkan kasus dugaan penipuan dan penggelapan, justru laporannya ditolak petugas SPKT. Mereka beralasan alat bukti yang dibawa korban tidak cukup.

Mencermati kasus ini, petugas SPKT menilai alat bukti Nursiyo masih minim dan lemah untuk dijadikan bahan bagi penyidik. Sebenarnya dua alat bukti saja sudah cukup untuk menjerat Erwin Basri sebagai pelaku dugaan penipuan dan penggelapan. Tapi menurut petugas SPKT Polrestabes Surabaya, bukti yang dilampirkan Nursiyo tidak cukup kuat.

Pertimbangan lain, Nursiyo tidak memiliki bukti penyerahan mobil dari korban ke pelaku. alias tidak ada perjanjian hitam putih atau pernyataan yang dibubuhi materai. Artinya perjanjian itu hanya dilakukan secara oral/lisan. Begitu juga saat menyerahkan uang, Nursiyo tidak mentransfer uang melainkan memberi ke Erwin Basri dengan cash/tunai. Di sini petugas menyarankan agar korban mencari bukti peralihan surat-surat mobil ke Polda Jatim. Sebab kabarnya mobil itu sudah di balik nama.

Lemahnya bukti lain, Nursiyo tidak memiliki saksi saat proses transaksi atau saat pelaku Erwin Basri menjanjikan sanggup memasukkan anaknya ke bintara TNI AL. Saat ditanya petugas apakah anak atau istri atau saudara atau teman ada yang mengetahui (melihat dan mendengar) soal “akad” tersebut. Nursiyo menjawab anaknya sempat diajak ketemuan dengan Erwin Basri di rumahnya Pondok Candra. Namun saat itu tidak ada bahasan soal transaksi atau pelaku menjanjikan sesuatu pada korban. Diakui petugas menganggap saksi tidak ada.

Oleh petugas kemudian laporan Nursiyo soal dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan Erwin Basri ditolak. Petugas menyarankan agar korban Nursiyo melengkapi dua alat bukti dulu untuk dijadikan laporan.

Di akhir kata-katanya, petugas bilang sebenarnya unsur pidananya ada. Tapi akan menyulitkan penyidik untuk memproses. Sebab tidak ada alat bukti. Nursiyo tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Setelah ditipu dan menjadi korban, dia juga ditolak polisi melapor. Susahnya mencari keadilan di negeri ini, terutama bagi rakyat kecil.

“Saya sebenarnya kecewa laporan ditolak. Padahal saya datang ke kantor polisi untuk melapor, bahwa saya menjadi korban. Ini intinya sama dengan kasus pencurian. Masa kalau mobil saya dicuri terus saya janjian dulu ke pencuri. Hei kalau mau mencuri ke rumah bilang ke saya dulu ya. Sehingga nanti saya akan mengajak orang untuk menyaksikan pencurian tersebut. Apakah memang begitu susahnya mencari keadilan di negeri ini,” tanya Nursiyo kepada awak media yang mendampingi.

Keluhan Nursiyo memang tidak salah. Sebagai masyarakat yang awam akan hukum, wajar jika dia mengeluh susahnya mencari keadilan hanya gara-gara kurangnya alat bukti. Polisi tidak semestinya polisi mengabaikan laporan korban apalagi sampai menyarankan dan menyusuh untuk mengumpulkan alat bukti terlebih dahulu. Bukankah untuk mengumpulkan alat bukti sudah menjadi tugas penyidik.

Kalau memang polisi sudah melihat ada unsur pidana penipuan dan penggelapan, seharusnya laporan itu diterima. Tidak lantas menunggu pihak pelapor melakukan “penyelidikan” dan “penyidikan” guna mencari alat bukti. Ini kesannya, pelapor disuruh menjadi “polisi”.

Bagaimana pun, yang namanya orang menjadi korban tidak pernah memiliki niatan. Sebaliknya yang punya niatan buruk adalah si pelaku yang sejak awal berniat melakukan kejahatan. Banyak modus. Banyak motif.  Dalam kasus penipuan, modus pelaku sangat beragam. Tentunya setiap modus dilakukan secara berhati-hati untuk mengelabuhi korban agar tidak terlacak polisi, dan menghilangkan jejak kejahatannya.

Nursiyo adalah korban dari sekian banyak modus penipuan. Dia berharap hukum dapat berjalan. Jangan karena tidak punya alat bukti, sehingga kasusnya menjadi terbaikan. Demikian pula polisi, jangan menunggu laporan saja. Sementara di depan mata ada kejahatan yang senantiasa berpotensi mengancam korban-korban lain.

“Saya berharap polisi dapat memproses kasus yang menimpa saya. Masih adakah keadilan di negeri, atau sudah luntur. Ataukah keadilan itu hanya milik orang-orang berduit seperti yang dikatakan banyak orang,” harap Nursiyo mengakhiri ceritanya.[]