Hidayat Nur Wahid : Tidak  Gampang Bubarkan Ormas

Hidayat Nur Wahid

KANALINDONESIA.COM : Pembubaran Ormas yang dianggap anti NKRI dan ingin mendirikan khilafah islamiyah di Indonesia itu tidaklah gampang.

Pernyataan itu disampaikan Wakil ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menanggapi permintaan dari ketua PB NU Said Agil Siraj, usai melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Kampus Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Ponorogo, Jum’at (02/09/2016).

“Undang-undang keormasan jelas ya, pembubaran suatu ormas itu bukan kepentingan politik, tapi melalui proses hukum. Jadi siapa pun yang punya masalah dengan itu (ormas) maka  harus melalui proses hukum. Sekali lagi UU keormasan sudah jelas, pembubaran bukan pada posisi politik , tapi hukum,” kata Hidayat Nur Wahid.

Baca:  Bupati Ipong, Jalankan Gerbong Mutasi Perdana

Dijelaskanya, dari UU Ormas yang baru, yakni nomor 17 tahun 2013, maka masyarakat atau eksekutif ( pemerintah) dapat meminta pembubaran suatu Ormas bilamana dianggap bertentangan dengan dasar-dasar negara atau tidak mengakui terhadap NKRI.

“ MPR tidak berwenang, tapi kewenangan itu pada eksekutif, yaitu Mendagri. Silahkan masyarakat atau ekesekutif ( kalau mau membubarkan),” imbuhnya.

Salah satu alumnus Pondok Modern Darusalam Gontor Ponorogo itu justru meminta agar ormas islam khususnya, berada di garda terdepan dalam menegakkan NKRI.

“Menurut saya justru  Ormas islam makin cinta dengan Indonesia. Sesungguhnya dengan keislamannya Ormaslah yang harusnya berada di garis terdepan,” terang Hidayat Nur Wahid.

Sementara Yudi Latief, cendekiawan muda yang hadir dalam dialog mengatakan, Pancasila itu seperti orang sholat yaitu diawali dengan takbiratul ikram dan diakhiri dengan salam. Yudi juga mengingatkan kepada 400 peserta yang hadir yang terdiri dari mahasiswa , tokoh masyarakat utusan organisasi itu tidak justru merusak Pancasila.

Baca:  Paska Dilantik, Bupati Bangkalan Berharap KI Bisa Menjalankan Tugas Dengan Baik

“Jangan sampai ada pahlawan kesiangan tapi jutsru malah destruktif. Yang mengklaim sebagai orang yang paling pancasila padahal adalah sebenarnya deskturktif,” tutur pemikir dalam bidang keagamaan dan kenegaraan ini.

AD