Budaya Talaman di Ponpes Matholi’ul Anwar Simo, Beri Kesan Mendalam

Santri di Ponpes Matholi’ul Anwar Simo Sungelebak Lamongan mempersiapkan makanan diatas talam sebagai jatah makan para santri lainnya. Foto:omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Peran Pondok Pesantren tidak bisa diabaikan begitu saja dari sejarah dan budaya Indonesia, karena pondok memiliki peran penting dalam pendidikan dan penyebaran agama Islam di Indonesia. Pondok pesantren diketahui sebagai suatu tempat untuk para siswa/i-nya (santri) guna menimba ilmu keagamaan Islam, di mana yang membedakannya dengan sekolah, karena biasanya para santrinya juga tinggal menetap di pondok tersebut hingga santri tersebut lulus dari pendidikannya.

Gotong royong adalah budaya baik yang sudah menjalar dan turun temurun di Indonesia dan harus selalu dilestarikan, karena dengan gotong royong tersebut, akan memupuk rasa empati dan saling bekerja sama bahkan menimbulkan sikap taling menolong sebagai mahluk sosial. Fitrah manusia adalah mahluk sosial, yang membutuhkan bantuan orang lain, sehingga dengan belajar gotong royong yang ditanamkan di pondok pesantren berupa ro’an maka nantinya ketika mereka telah lulus dan keluar dari pondok, akan terbiasa dengan budaya ini, dan tidak kagok dengan kehidupan nyata dalam bermasyarakat.

Berbeda dengan ro’an yang identik dengan sesuatu yang sering tidak disukai, karena malas bersih-bersih. Namun Talaman ini sesuatu yang sering ditunggu tunggu oleh para santri akan kedatangannya.Talaman ini sendiri artinya makan bareng dalam satu nampan untuk dimakan bersama yang biasanya 5-7 orang atau lebih. Bahasa inipun berbeda-beda di berbagai daerah.

Mayoran adalah istilah yang digunakan oleh para santri untuk menunjukkan satu kegiatan makan bersama-sama dalam satu wadah besar. Wadah itu bisa berupa pelepah daun pisang (seperti gambar di atas) bisa juga dengan nampan atau baki.

Nampan atau baki merupakan salah satu wadah yang biasa digunakan untuk menyajikan makanan atau minuman, biasanya terbuat dari kayu, plastik, logam, atau bahan lainnya. Adapun bentuknya bisa bulat, atau persegi. Jika persegi kadang ada yang bertelinga di sisi kanan dan kiri sebagai pegangan tangan.

Sebagian masyarakat menyebut nampan sebagai talam,dulang atau tapsi. Karena itulah mayoran di sebagian pesantren disebut dengan istilah nampanan atau tapsinan. Yakni makan bersama-sama dengan satu nampan atau tapsi sebagai piring besarnya.

Seperti Bancaan/Mayoran/Lengseran dan lain lain. Hal ini mengajarkan bahwa dalam Talaman itu, mengajarkan untuk saling berbagi satu sama lain, apalagi berbagi rijeki, yang zaman sekarang jarang dilihat, karena keserakahan dan ketamakan setiap orang.

Satu nampan banyak tangan merupakan pelajaran yang berharga. Pelajaran membangun karakter kebersamaan dan egaliterian dalam pesantren. Satu nasib satu sepenanggungan satu rasa satu masakan. Tidak ada beda pembagian antara mereka yang memberi banyak atau sedikit, antara pemiliki beras atau pemilik nampan, antara yang masak nasi dan yang menunggu tungku.

Semua makan bersama-sama dalam waktu dan ruang yang sama. Hal ini juga menjadi latihan praktis untuk menghindarkan para santri dari sifat kikir dan bakhil. Coba bayangkan jika setiap orang bisa berbagi rijeki satu sama lain, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, mungkin kemiskinan sudah tidak ada di negeri ini, atau bahkan tingkat korupsi tidak semakin meningkat.

Budaya Talaman pun tidak mengenal kamu siapa atau seberapa tinggi pangkatnya. Jika kalian kelihatan, maka sebisa  mungkin santri yang lain akan mengajak bahkan sedikit meminta agar kamu juga ikut nimbrung dan ikut menikmati rijeki gratis tersebut. Bayangkan alangkah indahnya jika hal itu ada pada setiap moral anak bangsa.

Bagi para santri yang pernah tinggal di pesantren, budaya Talaman tentu bukan sesuatu yang asing. Bahkan kebiasaan makan bareng dalam satu Talam bersama-sama menjadi kenangan yang tak terlupakan.

“Di pondok kami biasa menyantap talaman, karena ini memang bisa dijumpai di pondok. Talaman itu fleksibel, satu wadah bisa dimakan orang banyak, dan nilai kebersamaan di situ muncul,” ujar Cikal, salah satu santri di Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Simo Sungelebak Lamongan.

Para santri dengan alas seadanya duduk melingkar beberapa orang. Sementara sebuah talam, lengkap dengan nasi dan lauk pauk berada di tengah-tengah.

Inilah yang di kemudian hari menjadi salah satu bahan pengawet kerukunan antar mereka. Perbedaan prinsip, pendapat dan pendapatan tidak akan mempu menggoyahkan rasa kekeluargaan antara mereka. Karena makan satu nampan dengan banyak tangan terlalu kokoh untuk sekedar menghadapi perbedaan prinsip dan pilihan.(Omdik)