Tanggul Longsor, Dua Desa Di Lamongan Terancam Tenggelam

Warga bergotong royong membuat bronjong dari anyaman bambu pada tangkis jebol di Maduran Lamongan. Foto:omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Kondisi tanggul Sungai Bengawan Solo tepatnya di Desa Gedangan Kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan Jawa Timur yang berfungsi sebagai pembatas sungai dengan daratan, kini memprihatinkan usai dihantam derasnya arus air Bengawan Solo beberapa hari ini yang debit airnya cukup tinggi mengakibatkan tanggul sepanjang 100 meter itu pun longsor pada Senin (26/2/2018).

Tanggul itu kini nyaris ambles sehingga banjir akan mengancam ratusan rumah warga setempat. Sebab, potensi banjir besar mengintai ratusan rumah di dua desa yakni Desa Gedangan dan Blumbang Kecamatan Maduran bila tanggul itu jebol.

Sebagian besar badan tanggul tersebut amblas, sementara jarak kaki tanggul dengan bibir sungai hanya 1 meter. Sejumlah warga mengaku was-was dan khawatir terkena banjir jika tanggul tersebut benar-benar jebol. Sejumlah warga diantaranya sudah siap untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Ketakutan warga itu sangat beralasan, karena pada tahun 2007 lalu dua desa tersebut tenggelam dan warganya pun mengungsi ditempat yang aman.

Kepala Desa Gedangan, Ali Ghufron mengatakan, bahwa tanda-tanda akan amblasnya tanggul tersebut sudah terlihat beberapa hari ini ketika derasnya aliran dan debit sungai Bengawan Solo meningkat.

Warga Desa Gedangan pun secara gotong royong memasang penahan sementara agar tanggul yang jebol tidak meluas. Dengan memakai “gedhek” atau dinding dari anyaman bambu serta tumpukan tanah yang dimasukkan sak dijadikan sarana mengurangi kerusakan tanggul yang amblas dan lonsor tersebut.

Warga memperbaiki tanggul secara swadaya karena tanggul yang jebol itu tidak lagi bisa menunggu lama untuk dibiarkan. “Karena kalau dibiarkan, akan makin ambles dan bisa jadi jebol lalu pasti dua desa ini akan tenggelam, padahal hujan sekarang masih turun sementara ketinggian air Bengawan Solo perlu diwaspadai” ujar Ali Ghufron.

Karena swasdaya warga, alat yang digunakan juga seadanya. Warga
mencari tanah kemudian dimasukkan ke dalam sak lalu di letakkan ke bronjong yang terbuat dari anyaman bambu bukan dari kawat. Bronjong anyaman bambu diisi dengan tumpukan sak yang berisi tanah agar bisa menahan air yang telah berbelok arah. (Omdik)